Panduan
Desember 2009
Facebook, Sahabat Bagi Anak
Panduan Kidia No. 22/2009
Kategori: Umum (347 kali dibaca)
SALAM REDAKSI

Pembaca Kidia yang terhormat,
Anak-anak masa kini dapat disebut sebagai “anak-anak layar”. Sedari kecil, anak-anak ini sudah mengakses dan terbiasa dengan berbagai layar (screen), entah itu layar televisi, handophone, dan komputer.
Setelah menyoroti bagaimana interaksi anak-anak dengan handphone pada edisi lalu, pada edisi ini kami menyoroti fenomena Facebook yang mengejala di berbagai lapisan, termasuk anak-anak. Kita perlu sama-sama mencermati “demam Facebook” di kalangan anak, semata-mata karena anak-anak adalah kalangan yang belum kritis dalam mengakses media dan berpotensi besar untuk terpengaruh media.
Kita tentu saja berharap teknologi membawa manfaat sebesar-besarnya bagi siapa pun, termasuk anak-anak kita tercinta. Edisi ini berusaha memberikan masukan kepada kita semua agar anak-anak tidak salah langkah dalam menggunakan Facebook dan justru dapat memetik manfaat dari teknologi ini.
Salam,
Anak-anak masa kini dapat disebut sebagai “anak-anak layar”. Sedari kecil, anak-anak ini sudah mengakses dan terbiasa dengan berbagai layar (screen), entah itu layar televisi, handophone, dan komputer.
Setelah menyoroti bagaimana interaksi anak-anak dengan handphone pada edisi lalu, pada edisi ini kami menyoroti fenomena Facebook yang mengejala di berbagai lapisan, termasuk anak-anak. Kita perlu sama-sama mencermati “demam Facebook” di kalangan anak, semata-mata karena anak-anak adalah kalangan yang belum kritis dalam mengakses media dan berpotensi besar untuk terpengaruh media.
Kita tentu saja berharap teknologi membawa manfaat sebesar-besarnya bagi siapa pun, termasuk anak-anak kita tercinta. Edisi ini berusaha memberikan masukan kepada kita semua agar anak-anak tidak salah langkah dalam menggunakan Facebook dan justru dapat memetik manfaat dari teknologi ini.
Salam,
----------
LAPORAN UTAMA
FACEBOOK: Sahabat bagi Anak?
Apa situs paling populer saat ini? Facebook! Popularitas situs jaringan pertemanan ini memang luarbiasa. Data terakhir dari Common Sense Media Team menunjukkan, pengguna aktif Facebook (FB) di dunia per Agustus 2009 mencapai 250 juta orang!
Facebook berhasil menembak salah satu sifat manusia yang paling hakiki: kehendak untuk menghubungkan diri dengan orang lain atau untuk berkomunikasi. Program ini juga memenuhi kehendak orang untuk bersosialisasi dan untuk eksistensi diri (dalam bahasa gaul anak muda sekarang, untuk narsis).
Situs jaringan pertemanan memang berbeda dibanding fitur internet lainnya. Di situs semacam ini, kita bisa mengekspresikan diri tidak hanya pada satu dua orang, melainkan dengan komunitas. Kita juga bisa melihat bagaimana orang lain mengekspresikan diri.
Demam Facebook tidak hanya melanda orang dewasa. Anak-anak yang biasanya lebih dulu (dan jauh lebih jago!) memanfaatkan internet ketimbang orangtuanya juga menyerbu Facebook untuk memperluas atau mempererat jaringan pertemanannya. Selain Facebook yang sangat populer, anak juga menceburkan dalam situs jaringan pertemanan seperti Twitter, Plurk, dan sebagainya.
Yang Positif dari Facebook
Namanya juga situs sosial, jejaring seperti Facebook memungkinkan anak terhubung dengan komunitasnya dan komunitas luar. Anak belajar untuk mengekspresikan diri, bergaul, dan bersosialisasi, serta memelihara hubungan pertemanan dalam komunitas yang diikutinya. Anak juga belajar menerima umpan balik, sekaligus belajar menyikapinya. Hal ini memberi keahlian pada anak untuk mengembangkan diri secara konstruktif.
Facebook atau situs pertemanan lain juga memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk berpartisipasi dan mengorganisasikan cause tertentu. Maka, anak dapat belajar untuk mengenal isu-isu sosial, aktif melakukan advokasi, bahkan dapat memobilisasi rekan-rekannya untuk alasan-alasan tertentu. Facebook menyediakan pilihan fan, cause atau sekadar meng-klik 'like' pada halaman status.
Sebagaimana halnya program internet lainnya, Facebook memberi kesempatan bagi anak untuk mengakses informasi. Jaringan pertemanan menyediakan kesempatan untuk meng-klik website berisi informasi yang dibutuhkan. Seperti itulah perpustakaan dunia maya bekerja. Anak akan sangat terbantu ketika harus mengerjakan tugas sekolah, yang datanya tidak bisa didapatkan di perpustakaan.
Yang Negatif dari Facebook
Di samping kehebatan-kehebatan itu, ada sisi lain dari situs jaringan pertemanan yang perlu kita cermati.
Ini cerita Enggar (34 tahun) tentang putrinya, Mimi (14 tahun). “Sejak dibeliin blackberry sama papanya, Mimi nggak pernah lepas dari HP-nya. Kemana aja dibawa. Ketak-ketik terus. Ini gara-gara FB!”
Mimi rupanya terserang penyakit kecanduan untuk meng-update status. Nyaris setiap 15 menit sekali, Mimi meng-update status. Yang mengkhawatirkan, updating ini tak berhenti di sekolah. Saat gurunya mengajar di kelas, sempat-sempatnya Mimi mengubah status.
Permasalahan jaringan pertemanan bukan hanya pada kecanduan untuk updating status, tetapi juga pada 'rusaknya' bahasa kita. Dalam praktiknya, bahasa dalam FB banyak menggunakan singkatan kata dan simbol-simbol tertentu untuk mengekspresikan maksud dan identitas pemakainya.
Seorang remaja misalnya menulis seperti ini di FB: “Trrrt... gs4 cr g ad dit4, mamfuzhhh dah xixixixi....” Tentu, perlu “perjuangan” untuk memahami tulisan ini. Ternyata, artinya adalah: “Nggak sempat cari, nggak ada di tempat. Mampus deh, hihihi.”
Bahasa semacam ini ramai ditemukan di situs anak dan remaja. Sebagai sebentuk ekspresi, sah-sah saja kata atau ikon tertentu dipilih menjadi simbol. Namun jika kebiasaan ini dibiarkan, kita semua patut khawatir bahwa kita mengorbankan logika berbahasa, kesantunan bertutur, yang di dalamnya ada faktor keindahan kata-kata.
Pengguna Facebook sering menampilkan pendapat atau suasana hatinya dengan sangat ekspresif tanpa memikirkan nilai kepantasan dan kesantunan. Penulisnya sering lupa bahwa tulisan mereka dibaca banyak orang, bukan hanya sebatas satu atau dua orang.
Misalnya, mereka sering menampilkan perasaan suka atau tidak suka mereka dengan temannya dan seperti tidak mempedulikan orang lain. Misalnya: “hehehe, maap aku merebutnya. hahaha aku kenal sama dia lewat YM. awalnya MSN. eh lama-lama… . wkakaka.. hehehehe. Aku seneng bangeeeeetttttttt!!!!!”
Bahkan, ada yang tampak “sadis” dan jelas-jelas mengkhawatirkan seperti contoh tulisan berikut. “all of this homework will kill me someday...i have a good idea, why don't we kill the teacher first?”
Tidak cuma satu-dua, obrolan macam ini beredar dengan bebas di situs pertemanan. Yang tadinya main-main, jadi serius, dan 'balas dendam' pun dilakukan di ruang maya, disaksikan siapa saja.
Yang kurang disadari adalah bahwa berbagi status di jaringan pertemanan tidak boleh dilakukan sembarangan, karena sekali 'share', maka informasi pun menjadi tersebar luas ke tengah publik. Tentu saja, marah dan kesal itu biasa, tapi kalau dilampiaskan dengan memaki-maki di ruang publik, bisa dikategorikan memfitnah dan terkena pasal pencemaran nama baik! Hal-hal ini seperti ini biasanya luput dari pertimbangan anak. Akibatnya, ketika menulis status mereka hanya asal-asalan saja.
Salah satu kelebihan situs jaringan pertemanan adalah display foto. Foto kita bisa di-share dengan orang lain dan dikomentari orang lain. Ini tentu menyenangkan dan membuat kita tertawa karena foto dan komentarnya bisa lucu-lucu. Namun, berhati-hatilah jika meng-upload foto anak ke internet. Foto anak bisa dimanfaatkan oleh para pedofil yang mengelola jaringan atau situs yang mengeksploitasi sensualitas anak. Sungguh tidak lucu kan kalau tahu-tahu foto anak sudah diperdagangkan dan diperlakukan sebagai objek seks!
Aturan Main
Lalu, bagaimana sebenarnya mengatasi hal-hal semacam ini? Craig Blewett, pengelola situs Wisdom4Parents, mengingatkan kita akan prinsip sederhana yang tampaknya terlupakan ketika kita berhadapan dengan internet: All good children know NOT TO TALK TO STRANGERS, OR TAKE A GIFT FROM THEM.Semua orangtua hendaknya mengajari anaknya agar tidak bicara sembarangan pada orang asing, atau menerima apapun dari mereka. Di internet, prinsip ini juga mesti diterapkan.
Internet berisiko membuka gerbang rumah kita --dan tidak semua yang berkunjung bisa diseleksi niatnya. Maka, penting sekali mengontrol siapa saja yang di-add menjadi teman anak kita. Kalau perlu, pegang password anak sekalian. Jadi, anak hanya bisa berinternet dan bersurfing-ria di jaringan maya kalau ada orangtuanya atau orang dewasa yang mendampinginya.
Facebook menetapkan batas usia penggunanya minimal 13 tahun. Nah, kalau ada anak SD bisa wara-wiri di situs pertemanan semacam ini dengan bebasnya, tanpa kenal waktu dan aturan, pertanyaannya adalah 'kok bisa?' Pasti identitas anak, khususnya menyangkut usia, telah dipalsukan. Siapa yang memalsukan? Bisa anak, bisa orang dewasa lain. Nah, kalau demikian yang terjadi, orangtuanya mesti ditegur keras, kenapa anaknya dibiarkan seperti ini!
Begitulah, sebagaimana media lainnya, situs jaringan pertemanan bagai pisau bermata dua. Sisi positifnya, ada. Namun, sisi negatifnya juga terbawa serta.
Pilihan apa yang harus diambil oleh orangtua untuk mengamankan anak dari bahaya situs pertemanan tentu diserahkan pada masing-masing. Tetapi, kalau kita tidak yakin bisa mengontrol interaksi anak dengan jaringan semacam ini, lebih baik berpikir panjang sebelum membiarkan anak menghabiskan waktunya di jaringan pertemanan dan menjadikan FB sebagai sahabatnya. (SIA/NM)
---------
ULASAN
FACEBOOK DAN KONSEP DIRI:
Haruskah Dikhawatirkan?
oleh Dian Budiargo, kandidat doktor Ilmu Komunikasi UI
Gaya “gaul” anak–anak, terutama di perkotaan, dapat kita teropong antara lain melalui situs jejaring sosial Facebook (Fb). Menjadi pertanyaan, apakah kehadiran FB mengganggu perkembangan anak?
Karena FB adalah situs pertemanan dan berfokus pada interaksi, ada baiknya kita telusuri bagaimana anak-anak berinteraksi.
Di masa kecil, anak mengembangkan apa yang disebut konsep diri. Isi dari konsep diri adalah gabungan dari kapasitas kognisi dan bagaimana hubungannya dengan pihak lain. Mereka menjustifikasi diri mereka baik dari sisi penampilan, kemampuan, dan perilaku dalam hubungannya dengan orang lain.
Di usia 4-6 tahun anak membandingkan dengan satu kelompoknya saja. Namun semakin besar anak akan membandingkan dengan banyak individu yang ada di sekitarnya. Mereka menjadi pembaca yang baik, mencoba menginternalisasikan harapan orang lain untuk membentuk diri mereka yang dianggap ideal. Di masa inilah, proses interaksi sosial menjadi penting dan berperan dalam pembentukan konsep diri.
Kita sebagai manusia tak pernah bisa hidup sendiri, selalu bersosialisasi dengan orang lain. Di masa balita, interaksi terjadi hanya dengan orang-orang dekat (ibu, ayah, saudara, “mbak” di rumah). Makin lama, interaksi semakin luas, mulai dengan lingkungan di luar rumah dan sekolah. Nah dengan adanya Fb, interaksi dengan dunia luar tidak terbatasi lagi, siapa pun dapat dengan mudah berinteraksi dengan kita.
Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi dengan orang lain. Tatkala interaksi yang terjadi masih melalui tatap muka (face to face), konteks dan wacana menjadi faktor penting. Konteks adalah lingkungan dan segala sesuatu yang sifatnya fisik, seperti penampilan, gaya bicara, budaya dan juga situasi serta kondisi di mana interaksi terjadi. Sedangkan wacana adalah topik bahasan yang dijadikan pokok pembicaraan.
Lain halnya dengan interaksi melalui Fb. Pada Fb yang ada hanyalah pokok bahasan atau wacana, sedangkan konteksnya hilang. Akibat interaksi melalui Fb akan membuat orang kehilangan makna kontekstualnya, dikawatirkan anak yang banyak berinteraksi melalui Fb juga akan kehilangan budayanya sendiri. Identitas diri mereka sebagai “anak” Indonesia akan menurun.
Facebook adalah hasil kemajuan teknologi komunikasi yang mau tidak mau harus diterima keberadaannya. Yang perlu dicermati adalah bagaimana memahami pola komunikasi melalui Fb dan apa dampaknya bagi anak kita. Secara teoritis, Fb adalah jaringan sosial yang memberikan kemudahan bagi kita untuk berinteraksi dengan siapa pun dari belahan dunia mana pun, sehingga dapat memberikan banyak teman dan informasi.
Namun di balik itu, ada hal lain yang harus diperhatikan. Tapscott (2009) menyebutkan bahwa berinteraksi melalui Fb dapat membuat anak menjadi narsis, teralienasi, dan tidak berani menghadapi kenyataan. Narsis adalah suatu rasa percaya diri yang demikian besar --hanya saja rasa percaya diri ini terjadi pada interaksi online. Anak teralienasi atau lebih senang menyendiri, karena asyik dengan komputer atau blackberry (BB)-nya.
Sesuai dengan slogan BB, “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”, maka jika diperhatikan dengan adanya pertemanan melalui Fb ini, sering anak mengabaikan apa yang ada di sekitarnya termasuk norma dan budayanya. Yang lebih mengkhawatirkan, kebiasaan berkomunikasi melalui Fb membuat anak tidak terbiasa bertatap muka dengan pihak lain, atau menjadi tidak percaya diri jika offline.
Selalu ada dua sisi yang diakibatkan oleh kehadiran teknologi komunikasi. Yang harus diperhatikan adalah bukan membuang atau menghindarinya, tetapi bagaimana kita menyikapi kehadirannya dan dapat memanfaatkannya secara bijak.
Facebook adalah sarana komunikasi, benda mati. Positif dan negatifnya tergantung bagaimana kita menggunakannya. Dari hasil pengamatan, kehadiran Fb lebih memberikan dampak positif bagi anak yang memang tidak bermasalah, namun sebaliknya negatif bagi anak yang bermasalah. Fb sendiri sebenarnya lebih condong merupakan gaya hidup bagi anak, bukan suatu kebutuhan.
Pembentukan konsep diri anak lebih terbangun melalui pola interaksi secara tatap muka atau offline daripada melalui online atau Fb. Pola interaksi ini meliputi interaksi anak dengan orang tua, dengan teman sebaya atau sepermainan, dan dengan sekolah atau guru.
Dengan demikian, kita tidak perlu kawatir dengan maraknya situs pertemanan ini. Boleh-boleh saja anak ber-Fb-ria. Yang harus terus dijaga adalah bagaimana interaksi anak dengan ketiganya (orang tua, lingkungan, dan pendidikan) itu. Sepanjang interaksi anak dengan ketiga agen sosialisasi ini terbina dengan baik, maka konsep diri yang melekat pada anak-anak akan tetap dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka baca. (NM)
----------
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar

