Sejak tahun 2006, YPMA menjadi koordinator yang menghimpun koalisi LSM, sekolah, dan universitas melaksanakan kegiatan Hari Tanpa TV di berbagai wilayah. Kegiatan ini tidak dimaksudkan untuk memusuhi TV, tetapi menimbulkan kesadaran agar masyarakat seharusnya menggunakan TV dengan bijak untuk melindungi anak-anak.
Kegiatan yang diselenggarakan memperingati Hari Anak 23 Juli ini juga merupakan pernyataan keprihatinan masyarakat terhadap isi acara TV yang tidak sehat dan tidak aman untuk anak-anak. Jadi sesungguhnya, Hari Tanpa TV adalah pesan penting dari masyarakat bagi pihak industri TV agar lebih bertanggungjawab dalam memproduksi isi siaran.
Edisi khusus "Hari Tanpa TV" ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye Hari Tanpa TV.
Anda diharapkan mematikan pesawat TV selama sehari pada hari Minggu, 26 Juli 2009, dan selanjutnya -demi melindungi anak-anak- mengatur waktu menonton TV keluarga dengan bijak.
Salam,
Nina Mutmainnah Armando
LAPORAN UTAMA
HARI TANPA TV
Minggu, 26 Juli 2009
Tidak bisa dipungkiri bahwa TV adalah media yang paling murah dan mudah digunakan, dan tentunya memberikan manfaat sebagai sumber informasi dan hiburan. Karena 'kehebatannya' tersebut, anak-anak seringkali begitu mengidolakan TV, bahkan menganggapnya sebagai sahabat, dan tak jarang menjadi kecanduan.
Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, atau lebih kurang 1.500 jam setahun. Jumlah ini bahkan lebih besar dibandingkan dengan waktu anak belajar di bangku SD negeri selama setahun yang hanya sekitar 750 jam.
Angka yang mencengangkan ini diperparah dengan belum terbentuknya pola menonton TV yang sehat. Menonton TV yang sehat mencakup: batasan waktu menonton TV, pemilihan acara yang tepat, dan pendampingan saat anak menonton TV. Ini penting karena tayangan TV kita didominasi oleh tayangan yang tidak aman untuk anak. Banyak acara dewasa ditayangkan pada jam anak biasa menonton TV. Berkembangnya industri penyiaran tidak diimbangi dengan aspek perlindungan pada anak.
Situasi itulah yang melatarbelakangi Gerakan HARI TANPA TV (HTT).
Apakah HARI TANPA TV?
Pada hari itu, seluruh keluarga di Indonesia, khususnya mereka yang memiliki anak usia pra-sekolah dan SD diajak untuk tidak menonton TV selama sehari dan menggantinya dengan melakukan aktivitas lain yang lebih berarti. Melalui kegiatan ini, orangtua diajak untuk membuktikan bahwa TV bukanlah satu-satunya pilihan hiburan yang mereka miliki. Membaca buku bersama, bermain petak-umpet di halaman, membantu Ayah bercocok tanam, membuat kue bersama Ibu, atau berkunjung ke berbagai tempat wisata adalah contoh bebeberapa kegiatan yang lebih menarik ketimbang bermalas-malasan di depan TV.
HTT adalah wujud nyata dari kesadaran akan pentingnya bermedia dengan cerdas dan kritis. Di kemudian hari, masyarakat diajak untuk mengurangi jumlah jam menonton TV dan kritis memilih tayangan yang aman dan sehat. Selain itu, HTT juga adalah wujud keprihatinan terhadap isi tayangan yang tidak sehat yang kerap ditawarkan oleh TV. Bila gerakan ini diikuti oleh jutaan keluarga, maka industri penyiaran pasti akan memperhatikannya.
Pelaksanaan HARI TANPA TV
Rangkaian kegiatan Hari Tanpa TV diawali dengan rapat-rapat koordinasi di Jakarta dan beberapa daerah, kemudian penyelenggaraan konferensi pers, Aksi Damai di beberapa kota, dan pelaksanaan Hari Tanpa TV. Aksi Damai adalah sarana untuk menyosialisasikan HTT kepada masyarakat.
Tahun lalu, Aksi Damai ini diadakan di beberapa titik keramaian. Misalnya di Bundaran HI di Jakarta, CiWalk di Bandung, dan MM UGM di Yogyakarta. Dalam aksi ini, panitia tidak hanya membentangkan spanduk, membagikan flyer, dan berorasi, namun juga ditampilkan happening art yang berkisah tentang berbagai isu mengenai anak dan TV. Pada hari "H", panitia HTT mengadakan kegiatan alternatif seperti lomba dan bernyanyi bersama, mewarnai, dan mendongeng. Di Jakarta, kegiatan ini dilangsungkan di Taman Monas.
Bisakah Kita Mengikuti HARI TANPA TV?
HTT bukan hanya milik Koalisi Nasional HTT. HTT adalah milik kita bersama dan tidak perlu perayaan besar untuk melakukannya. Setiap rumah dapat melaksanakan Hari Tanpa TV, kapan pun, di mana pun. Bila Anda merasa bahwa hari ini Anda ingin melaksanakannya, maka laksanakanlah. Menjadikan Hari Tanpa TV sebagai kebiasaan adalah hal yang sangat positif dan bermanfaat.
Melepaskan TV dari anak-anak bukanlah hal yang mustahil. Menggiatkan Hari Tanpa TV dalam keseharian justru adalah awal yang baik untuk melepaskan anak dari kotak ajaib ini. Memang dibutuhkan kerja keras dan pengorbanan lebih dari orangtua untuk membiasakan anak tidak menonton TV. Mengajak mereka melakukan hal lain sangat membutuhkan dukungan penuh dari orangtua.
HARI TANPA TV Bukan Memusuhi TV
Perlu ditekankan bahwa HTT tidak bermakna memusuhi TV atau anti-TV. Bagaimana pun tak bisa dipungkiri bahwa TV juga memberikan banyak manfaat dan tidak semua acara yang disediakan di TV buruk untuk anak.
HTT adalah simbol perubahan. Melalui gerakan ini, anak-anak diajak sehari saja mengenal hal lain di luar TV yang juga menarik dan lebih bermanfaat. Di kemudian hari, ia akan terbiasa untuk melakukan hal tersebut. Pembiasaan seperti ini membuat anak sadar akan banyaknya kegiatan lain yang lebih berarti. Sikap kritis terhadap tayangan TV perlu dibentuk pada anak sejak dini. Sikap ini membantu anak untuk memahami sajian yang tidak pantas ditiru dan mana yang bermanfaat.
Cerita Dari Pendukung HTT
Beberapa ungkapan dari pendukung HTT melalui SMS atau e-mail, misalnya menceritakan bahwa adalah sangat rugi bila harus menyerah kalah pada TV. Mereka mencontohkan kegiatan yang mereka lakukan sebagai pengganti menonton TV, seperti membuat prakarya tentang TV yang dilakukan keluarga Bapak Nur Hidayat di Makassar (2007), atau bermain bola, menggambar, dan membaca seperti yang dilakukan oleh Ibu Ani dan keluarga (2008). Ada pula yang bermain musik, berjalan-jalan ke rumah kerabat, berkeliling kampung, hingga mengobrol seperti yang dilakukan Ibu Indah Yuni dan anak-anaknya (2007).
Pendukung HTT yang lain menceritakan tentang anaknya yang akan mendenda dirinya sendiri apabila ia menyalakan TV selama HTT, dengan syarat seluruh anggota keluarga ikut melakukannya. Selama sehari penuh ia melakukan banyak kegiatan, seperti membaca koran pagi, majalah, dan komik, kemudian belajar berbagai aplikasi Microsoft Office di komputer, mengobrol bersama, bermain di lapangan dekat rumah, hingga akhirnya tertidur hingga pagi (Keluarga Bpk. Andi Anugrah, 2007).
Beberapa kisah di atas menggambarkan bahwa sehari tanpa TV bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan, baik oleh orangtua maupun anak-anak. Mari kita mulai melatih diri kita dengan membiasakan ber-HARI TANPA TV sendiri. Kebiasaan baik akan muncul dari kegiatan baik yang dilakukan berulang kali. Jadi, kapan kita mau memulai kegiatan baik ini? (IU/BG/NM)
DUKUNGAN UNTUK HARI TANPA TV
Saat ini acara di TV kadang dirasakan sebagai berondongan peluru dan ledakan mercon yg menggusur keheningan dan kedamaian batin untuk merenung menggali kearifan hidup. Kehangatan bercengkerama dan tukar pikiran dengan keluarga terampas oleh hingar-bingar TV. Makanya sangat urgen sekali-kali kita nyatakan libur dan berkata "No" pada TV untuk menyelam ke dalam rumah batin kita yg menyimpan kearifan suara hati.
Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Jakarta
Potret Indonesia di masa datang sebagian bisa diprediksi dari apa yg dikonsumsi oleh anak-anak kita melalui media, khususnya televisi, yang berorientasi pada akumulasi dan ekspansi modal. Aksi HARI TANPA TV harus dilihat sebagai bagian gerakan masyarakat untuk unjuk diri menolak apa yg mereka konsumsi, selera, dan masa depan negerinya yang semata-mata dibentuk oleh kepentingan ekonomi industri TV yang ada saat ini. Karena itu, Program Pascasarjana Dept. Komunikasi FISIP-UI sepenuhnya mendukung Hari Tanpa TV.
Ketua Program Pascasarjana Dept. Komunikasi
FISIP Univeristas Indonesia
Pilihan kita selaku negara-bangsa akan masyarakat yang bebas, plural dan demokratis, memang akan kontradiktif dengan semangat untuk melarang TV menayangkan ini-itu, membatasi acara siaran TV karena ini-itu, maupun menayangkan film atau tayangan lokal yang ceritanya ini-itu saja. Selain kontradiktif, juga akan terasa tidak dewasa alias kekanak-kanakan mengingat sebenarnya TV telah menjadi bagian kehidupan privat kita.
Di pihak lain, justru karena TV telah menjadi bagian kehidupan privat yang amat kuat mendesak kita, maka perlawanan frontal perlu dilakukan. Minimal secara simbolik, TV perlu di-reposisi-kan agar fungsinya menjadi tidak meluber kemana-mana sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan moral dan kognisi anak-anak kita.
Saya mendukung kegiatan "HARI TANPA TV" dan menganjurkan semua elemen masyarakat mengikuti langkah baik ini.
Salam.
Prof. Adrianus Meliala, Ph.D
Ketua Departemen Kriminologi FISIP UI
Televisi (TV) ibarat jarun suntik, dan acara-acara TV adalah cairan yang ada dalam jarum suntik tersebut. Jika cairan yang dimasukan dalam jarum suntik tersebut baik, maka orang yang menerima suntikan tersebut akan baik, namun jika cairan dalam jarum suntik tersebut racun, virus, atau cairan yang dapat merusak tubuh, maka orang tersebut akan tambah sakit, tidak normal atau "mati". Untuk itu mari secara bijak menyikapi acara-acara yang ada di TV, demi kebaikan masa depan anak-anak kita, generasi penerus bangsa. Gerakan Hari Tanpa TV, adalah suatu reaksi bahwa di TV sudah terlalu banyak materi yang merusak anak bangsa. Saya mendukung gerakan ini dengan maksud agar semua pertelevisian memperbaiki diri sehingga ada keseimbangan antara informasi, hiburan dan edukasi, sebagai suatu tanggungjawab pendidikan anak bangsa. Semoga Indonesia menjadi bangsa berharkat, bermartabat dan berkah.
Prof. Dr. Arief Rahman,
Guru Besar UNJ
Seandainya saja semua stasiun TV tak usah berpihak, cukup mempertimbangkan pemirsa anak tidak perlu kita menyelenggaran 'No TV Day'. Tapi Kenyataannya yang kita hadapi semakin hari program-program yang ada semakin mengancam perkembangan jiwa buat hati kita.
Maka marilah bekerjasama kita laksanakan HARI TANPA TV tanggal 26 Juli 2009. Kita tunjukkan bahwa kita punya sikap dalam melindungi anak-anak kita!
Elly Risman, Psi.
Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati
Jakarta.
Dalam dua tahun terakhir, saya secara pribadi dan atas nama Komisi Penyiaran Indonesia Pusat mendukung program HARI TANPA TV ini.
Saya yakin program ini tidak untuk menjauhkan masyarakat dari televisi, melainkan mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam menonton program-program televisi. Sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat dan nilai tambah dari menonton televisi tersebut.
Fetty Fajriati Miftach,
Wakil Ketua KPI Pusat.
PROGRAM TV ANAK AMAN
Are You Smarter Then a 5th Grader
Global TV
Sabtu: 19.00-20.00 WIB
Anda lebih pintar tidak sih dari anak kelas 5 SD?
Diadaptasi dari acara bertajuk sama yang ditayangkan di Star World, "Are You Smarter Than a 5th Grader" sekarang hadir dalam versi Indonesia. Acara ini menguji kecerdasan dan daya ingat orang dewasa dalam menjawab berbagai mata pelajaran SD kelas 1 sampai kelas 5.
Dipandu oleh Tantowi Yahya, peserta akan diuji dengan 10 pertanyaan. Setiap pertanyaan yang berhasil dijawab dengan benar akan membawa peserta untuk membawa pulang uang senilai Rp 500.000,- hingga Rp 200.000.000,-. Pelajaran yang ditampilkan dalam acara ini adalah Pendidikan Jasmanai dan Kesehatan (Penjaskes), PKn (Pendidikan Kewarganegaraan), IPA, hingga matematika.
Peserta dalam acara ini akan mendapatkan tiga jenis bantuan, yaitu Aman, Intip, dan Salin dari teman-temannya, lima siswa kelas 5 SD. Bantuan "Aman" akan secara otomatis didapatkan apabila peserta menjawab dengan jawaban yang salah, sementara teman pilihannya menjawab dengan benar untuk pertanyaan yang sama. Bantuan "Intip" dan "Salin" dapat dipilih oleh peserta apabila ia tidak mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan. Bedanya, pada pilihan "Intip" peserta boleh memilih mengikuti jawaban temannya atau menjawab sendiri. Sedangkan pada "Salin", peserta harus mengikuti apapun jawaban temannya.
Pada akhir acara, bila peserta memutuskan untuk "Drop Out" atau kalah dalam permainan ini, maka ia harus menyatakan secara lisan bahwa ia tidak lebih pintar daripada anak kelas 5 SD.
Muatan positif:
- Memberikan berbagai informasi terkait dengan pelajaran yang mungkin sedang dipelajari oleh anak di sekolah;
- Anak-anak juga dapat mengingat kembali pelajaran yang telah mereka dapatkan di sekolah;
- Mengembangkan rasa percaya diri anak dan berani mengungkapkan pendapat;
- Dan tentunya anak-anak tidak perlu rendah diri, karena ternyata orang dewasa tidak lebih pintar daripada anak-anak;
- Pada edisi khusus yang menampilkan para artis, pemain mengumpulkan uang untuk disumbangkan ke berbagai tempat. Di sini, anak-anak secara tidak langsung diberikan pemahaman untuk selalu mencoba membantu orang-orang yang lebih membutuhkan (IU/NM).
PROGRAM ANAK BAHAYA
Ren & Stimpy
Global TV
Sabtu: 09.00-09.30 WIB
Adalah seekor anjing Cihuahua (Ren) yang gila dan seekor kucing bodoh (Stimpy yang menjadi dua tokoh utama tayangan ini. Keduanya bersahabat dan tinggal bersama. Mereka seringkali melakukan banyak hal bersama-sama, melalui bermacam masalah dan petualangan, seperti misalnya saat mereka bersama-sama mencari pekerjaan karena kelaparan dan tidak punya uang. Namun ada pula masanya mereka tidak akur dan saling mengerjai, bahkan tidak jarang hingga bertengkar sengit demi mendapatkan keinginannya.
Kartun ini diciptakan oleh John Kricfalusi, pencipta kartun Mighty Mouse dan Beany & Cecil, pada 11 Agustus 1991 di Amerika Serikat. Tayangan ini pertama kali muncul hanya dalam dua episode dan langsung menjadi hit dalam jajaran kartun Nickelodeon.
Muatan negatif:
- Film ini memuat banyak adegan kekerasan fisik, baik antara Ren dan Stimpy, atau antara mereka dengan pihak lain. Kekerasan tersebut ditampilkan sebagai hal yang tidak membuat terluka padahal tindakan yang dilakukan sebenarnya bisa melukai orang lain bila dilakukan dalam kehidupan nyata. Contohnya: mencekik, memukul dengan godam besar, memukul wajah dengan penggorengan, dan menindih dengan melompat;
- Selain secara fisik, banyak juga bentuk kekerasan verbal digambarkan dalam kartun ini, baik itu mencaci atau mengancam;
- Pertemanan antara kedua binatang dalam film ini tidak menggambarkan persahabatan yang sesungguhnya, namun lebih banyak memiliki tujuan tertentu. Tidak jarang Ren dan Stimpy saling memanfaatkan demi mendapatkan keinginannya;
- Dalam banyak adegan, kedua tokoh utama dalam kartun ini menunjukkan sikap marah dan tidak bisa menerima saat keinginannya tidak terpenuhi;
- Kedua tokoh tersebut juga terbiasa menggunakan segala cara dalam memenuhi keinginannya;
- Terkadang ditampilkan pula sosok wanita (manusia) yang menarik secara fisik, seksi dan menggoda, yang menjadi pusat perhatian mereka;
- Sesekali ditampilkan kerjasama antara Ren dan Stimpy, namun bukan dengan tujuan yang membangun, tetapi demi mendapatkan keuntungan dari pihak lain. Seperti misalnya mereka berdua menipu orang lain demi mendapatkan pekerjaan, atau mengambil barang milik orang lain tanpa izin (RRR/NM).
ULASAN
Ngapain ya.. bila tidak Nonton TV?
R. Rika Rosvianti
Analis Media Monitoring YPMA
"Sehari tanpa TV? Rasanya sulit!" Mungkin hal itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiran banyak orang saat mendengar seruan gerakan Hari Tanpa TV.
Kampanye HARI TANPA TV mengajak keluarga di Indonesia untuk tidak menonton TV selama sehari. Sepertinya sederhana, tapi nyatanya tidak mudah karena kita sudah terbiasa untuk menonton TV setiap harinya. Karenanya diperlukan keterlibatan aktif dari para orangtua dalam mengeluarkan sang anak dari kendali TV dengan menciptakan beragam kegiatan yang jauh lebih menarik dan bermanfaat bagi mereka.
Apa yang bisa dilakukan?
- Pergi ke perpustakaan atau toko buku terdekat
Ajak anak mengenal buku, belajar membaca buku dan terbiasa dengan kegiatan membaca. Berikan buku sebagai hadiah dan sediakan banyak buku, serta buatlah perpustakaan kecil di rumah. - Bercocok tanam
Dengan mengajak anak bercocok tanam, orangtua bisa mengajarkan kepada anak makna tumbuh dan bertanggung jawab. Ajarkan mereka untuk menanam dan menyiram bunga di tiap pagi. - Bermain
Selain membuat anak menjadi lebih aktif dalam kegiatan fisik, bermain dapat merangsang anak lebih kreatif dalam menciptakan permainan dengan peralatan sederhana dan mengenal lebih banyak permainan tradisional. - Melihat awan
Walau terdengar aneh, kegiatan ini sebenarnya bisa meningkatkan kreativitas dan imajinasi anak. Orangtua bisa meminta anak untuk membayangkan bagaimana rasanya hidup di atas awan, atau mendeksripsikan bentuk awan yang dilihatnya. - Menulis surat
Menulis surat melatih anak untuk mengenali prosedur pengiriman surat melalui kantor pos (amplop, perangko, dan jasa besar pak pos), mempererat silaturahmi dan membuat anak senang bila menerima balasan. Jika anak mulai mengenal teknologi internet, bisa saja sarana e-mail digunakan untuk melatih kebiasaan menulis.
- Jalan-jalan
Jalan-jalan tidak selalu mengeluarkan uang. Kegiatan ini baik untuk tubuh karena bisa menurunkan tekanan darah dan mengurangi resiko berbagai penyakit. Anak-anak biasanya senang dengan hal-hal baru.
- Berenang
Berenang termasuk salah satu olahraga fisik yang disukai anak. Hampir semua anak suka bermain air.
- Bersepeda
Kalau dilakukan sendiri, mungkin bisa membosankan. Tapi coba lah bersepeda pagi bersama seluruh keluarga. Selain murah dan menyehatkan, kita bisa mengajak anak untuk menghias sepeda menjadi sepeda yang indah.
- Mendengarkan radio atau membaca koran
Radio bisa melatih anak untuk mendengarkan dengan baik, dan membaca koran bisa mengajak anak untuk menambah wawasannya tentang dunia. - Memasak bersama ibu
Memasak adalah kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan bersama-sama. Memasak beragam panganan sederhana seperti puding, atau membuat sate strawberry yang dibaluri coklat leleh.
- Olahraga
Berjalan-jalan, sepeda, berenang, hingga main badminton atau tenis meja, sangat mengasyikkan dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
- Melakukan kegiatan bakti sosial
Awali dengan memilah pakaian, mainan, sepatu, barang layak pakai yang sudah tidak lagi digunakan. Setelah itu ajak mereka untuk berkunjung ke panti asuhan dan menyumbangkan barang-barang tersebut. - Merapikan kamar
Mulailah dengan mengajak anak-anak membersihkan kamar atau tempat tidur mereka, yang biasanya dilakukan oleh pembantu rumah tangga. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar tentang tanggung jawab dan menghargai peran pembantu rumah tangga. - Mengikuti les
Ayo latih otak kanan kita dengan mengikuti berbagai les yang menjadi minat anak. Les musik, atau les menari dan melukis, sangat bermanfaat untuk perkembangan otak anak.
- Bercengkrama dengan keluarga
Kegiatan ini adalah bentuk hiburan yang sama sekali tidak membutuhkan modal. Yang orangtua butuhkan hanya waktu untuk duduk bersama dengan anak, berbagi cerita, atau bermain ular tangga, monopoli, dan sebagainya. - Belajar
Jadikan kegiatan belajar sebagai hobi yang menyenangkan, bukan kewajiban yang harus mereka lakukan dengan terpaksa. Belajar tidak harus berkutat dengan buku. Belajar untuk sabar, mengantri, hingga belajar menahan diri untuk tidak menonton TV adalah proses belajar yang baik.
- Membuat keterampilan tangan
Manfaatkan semua benda tak terpakai di rumah. Ajak anak-anak untuk membuat kartu ucapan atau pembatas buku dari potongan gambar-gambar di koran/majalah bekas. - Berkunjung ke kebun binatang/museum
Banyak manfaat berkunjung ke kebun binatang atau museum, di antaranya memberikan anak beragam pengetahuan yang terkait dengan pelajaran di sekolah (RRR/IU/BG).
PENDIDIKAN MEDIA
Main Flashcard Pendidikan Media Yuk!
Ike Utaminingtyas & Rahmitha Prathama
Banyak lho cara memperkenalkan dan mengajarkan Pendidikan Media kepada anak-anak. Salah satunya adalah dengan membuat permainan yang akrab dengan anak dan memiliki muatan Pendidikan Media. Misalnya, bermain flashcard pendidikan media.
Apa sih flashcard itu? Flaschard adalah suatu istilah untuk kartu pengingat atau kartu yang digunakan dengan cara diberikan secara sekilas. Merupakan salah satu bentuk media pembelajaran bagi anak di dalam mempelajari Pendidikan Media.
Guru atau orangtua bisa membuat sendiri kartu ini. Yang perlu disediakan adalah kertas karton dan beberapa potongan gambar acara TV, video game, buku cerita/komik, film anak. Guru atau orangtua bisa meminta anak-anak mengumpulkannya dari berbagai koleksi majalah yang mereka miliki, stiker, atau potongan sampul game yang tidak terpakai. Misalnya gambar Tom and Jerry, Blues Clues, Dora, WWF Smackdown, Feeding Frenzy, Winning Eleven, Tintin, Asterix, dan lain-lain.
Kegiatan mengumpulkan gambar ini merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Guru/orangtua bisa mulai mengajak anak bermain sejak proses ini. Ketika mereka menemukan sebuah gambar, Anda bisa menanyakan apakah tokoh dalam gambar itu tokoh video game, acara TV, atau tokoh dalam buku bacaan koleksinya. Anda juga bisa mengajak anak menceritakan kembali video game, acara TV, film, atau bacaan yang berisi tokoh tersebut. Misalnya ketika anak Anda menemukan gambar Asterix, Anda dapat mengajaknya menceritakan kembali kisah petualangan Asterix di salah satu komik yang pernah ia baca.
Ketika semua gambar sudah selesai dikumpulkan, minta anak-anak untuk menempelkan gambar tersebut di kartu yang terbuat dari kertas karton yang sudah dipotong berbentuk kotak. Setelah itu, di kartu yang lainnya, mintalah anak menuliskan nama-nama dari tokoh/judul film/video game/buku yang gambar-gambarnya sudah ditempelkan di kartu-kartu sebelumnya. Masing-masing kertas berisi satu nama. Sebagai tambahan, buat kartu lainnya lagi yang berisi tulisan "Acara TV aman", "Video Game aman", "Buku Bacaan aman", "Film aman", "Acara TV berbahaya", "Video Game berbahaya", "Buku Bacaan berbahaya", dan "Film berbahaya".
Setelah kartu-kartu tersebut siap, tiba saatnya untuk memainkannya.
Salah satu cara memainkannya adalah dengan cara seperti ini: tebarkan kartu-kartu yang berisi gambar-gambar di lantai atau di atas meja dalam kondisi terbuka. Guru/orangtua memegang kartu-kartu yang berisi nama-nama atau judul-judul dari gambar yang ada di kartu yang sudah tersebar di lantai atau di atas meja. Berikan kesempatan pada anak untuk mengamati kartu-kartu tersebut.
Setelah itu guru/orangtua dapat menyebutkan salah satu nama tokoh atau judul buku atau informasi tentang kartu tadi dan minta anak untuk mengambil kartu bergambar yang baru saja disebutkan oleh guru/orangtua. Perhatikan apakah kartu yang diambil itu sudah benar atau belum. Permainan ini bisa dilakukan dengan target: anak yang bisa mengumpulkan kartu bergambar yang paling banyak dan benar adalah yang keluar sebagai menang. Namun lebih disarankan bahwa dalam permainan ini tidak ada suasana kompetisi tetapi lebih kepada situasi pembelajaran yang kooperatif dan membuat suasana pembelajaran pendidikan media terasa lebih cair, menyenangkan, dan menantang anak.
Bila anak sudah mulai terbiasa dengan kartu nama dan gambar, keluarkanlah kartu bertuliskan misalkan "Acara TV Aman". Mintalah anak untuk dapat menemukan kartu dengan gambar tokoh-tokoh yang biasa mereka temukan di TV, seperti Sponge Bob, Dora, dan lain-lain. Setelah berhasil mengumpulkan, ajak mereka menceritakan kembali isi acara tersebut satu per satu. Demikian pula ketika guru/orangtua mengeluarkan kartu "Buku Bacaan", ajak anak menemukan kartu-kartu bergambar Asterix, Tintin, Lima Sekawan, dan lain-lain yang tersedia. Sama halnya dengan yang sebelumnya, ajak anak untuk menceritakan kisah buku bacaan tersebut satu per satu.
Apa gunanya permainan ini?
Pertama, permainan ini bukan hanya memperkenalkan anak-anak pada pendidikan media, seperti pengenalan tokoh dan pemahaman cerita. Permainan ini memungkinkan guru/orangtua dan anak berkomunikasi tentang apa saja yang biasa ditonton, dimainkan, dan dibaca anak-anak, sehingga guru/orangtua bisa lebih memahaminya. Ketika anak menjelaskan isi dari acara TV, film, video game, dan buku bacaan yang ditemukannya, cobalah gali sejauh mana anak-anak dapat memahami mengenai hal-hal yang baik atau buruk dari isi media tersebut.
Tanyakan kepada mereka kira-kira hal apa saja yang bisa dilakukan anak untuk menangkal hal yang buruk dan mengambil hal yang baik dari media yang mereka gunakan. Jika anak belum memahaminya guru/orangtua bisa memberikan informasi tersebut.
Bermain bersama dengan anak seperti ini tidak hanya memungkinkan guru/orangtua untuk lebih dekat dengan anak, namun juga memberikan kesempatan untuk mendengarkan dan memahami anak Anda. Permainan ini juga menuntut anak untuk aktif bergerak.
Selamat bermain!(IU/RP/BG)
----------

