HP: Diidamkan Anak,
Perlu Diwaspadai Orangtua
Bulan April lalu saya berkesempatan melakukan survei ke murid kelas 4 dan 5 di beberapa SD di Jakarta. Salah satu bahan yang saya tanyakan menyangkut penggunaan HP (handphone, bukan Harry Potter) anak-anak tersebut. Para anak antusias menjawab "Ya!" saat ditanya apakah pernah menggunakan HP. Beberapa bahkan menegaskan dengan kata "Pastilah!" HP yang dipakai itu bisa milik orangtua, saudara, bahkan milik pribadi mereka sendiri.
Banyak anak yang mengutarakan bahwa mereka sangat menginginkan HP sebagai hadiah ulang tahun mereka. Yang sudah punya HP ingin model yang lebih baru. Yang belum punya HP lebih pasrah, yang penting punya dulu. Saya jadi ingat para sepupu saya yang sebaya dengan para siswa ini. Mereka belajar sangat keras tahun lalu supaya bisa mendapatkan ranking tertentu di kelas, dengan iming-iming HP dari orangtua mereka. Rupanya HP bisa secara langsung mendorong motivasi belajar anak.
Membawa HP ke sekolah telah menjadi hal yang lazim di banyak sekolah, terutama di kota-kota besar. Banyak orangtua yang membekali anaknya dengan HP supaya anak-anak mudah menghubungi orangtuanya setiap saat, sesuatu yang penting bagi para orangtua yang bekerja. Dengan begitu orangtua bisa mengkontrol keberadaan serta aktivitas anaknya. Saya pernah terharu mendengar pembicaraan seorang rekan kerja dengan anaknya di telepon. Rupanya si anak ingin menonton acara tertentu di TV namun ia minta izin dulu dengan ibunya kalau-kalau acara tersebut tidak aman untuknya. Wah, ini positifnya punya HP bagi anak.
Menelepon memang menjadi aktivitas yang bisa dilakukan dengan HP. Tapi seiring perkembangan teknologi, HP dapat dimanfaatkan lebih dari itu. SMS, MP3, dan kamera sudah dengan fasih dipakai oleh anak. Mereka dengan mudah mentransfer foto atau video dengan sesama temannya. Sayangnya, kemampuan ini juga mempermudah peredaran gambar atau video porno di kalangan anak. Apalagi, fasilitas HP yang semakin canggih memungkinkan anak berinternet ria: mulai dari men-download gambar, games, hingga mengakses Facebook.
Seorang rekan kerja (beda dengan rekan di atas) suatu hari bercerita dengan kesal bahwa pulsa teleponnya habis beratus-ratus ribu secara singkat. Ternyata pulsa tersebut tersedot karena anaknya ber-facebook ria dengan HP itu. Sebuah pembelajaran yang mahal (secara harfiah) untuk sang ibu dan anak agar berhati-hati memakai HP untuk berinternet.
Keluhan borosnya pulsa memang menjadi keluhan yang paling sering saya dengar dari orangtua yang memberikan HP pada anaknya. Rupanya sang anak tidak atau belum sadar bahwa penggunaan HP dapat berkonsekuensi pada biaya. Dalam Kidia edisi tiga belas (Menyusuri Jalan Sesama), Santi Indira Astuti menulis pengalaman anaknya yang kehabisan pulsa terus-menerus setelah iseng mengetik "reg_spasi" sesuatu ke nomor yang diiklankan di TV. Dari penelitian saya April lalu, 1 dari 5 anak mengaku pernah melakukan hal yang sama. Namun tampaknya mereka juga belajar dari pengalaman tersebut, karena beberapa anak dengan lantang mengatakan, "Jangan mau ketik reg spasi ... karena bikin rugi!"
Namun kemampuan ber-HP, baik menelepon, SMS ataupun internet, tidak hanya berefek negatif terhadap pulsa. Jangan lupa bahwa HP memungkinkan sebuah jalur koneksi pribadi dengan si anak, yang memungkinkan dia berhubungan dengan siapa pun. Misalnya jalur chatting di Internet. Di AS tahun lalu terbongkar jaringan pedofilia melalui jalur chatting internet. Awalnya pelaku menyamar sebagai anak sebaya hingga mereka bisa memperoleh berbagai informasi pribadi si anak. Lalu mereka mulai menjanjikan imbalan tertentu bila si anak melakukan apa yang mereka inginkan. Ini merupakan fenomena mengerikan yang saya harap tidak terjadi di Indonesia.
Beberapa orangtua di blog mereka menceritakan usaha yang mereka lakukan untuk melindungi anak mereka dari efek negatif HP. Misalnya dengan memberikan HP bukan pada si anak, melainkan pada pengasuh mereka. Yang lain menerapkan aturan bahwa HP tidak boleh dibawa ke kamar tidur anak, melainkan disimpankan oleh orangtua begitu mereka ada di rumah. Ada juga yang secara berkala memeriksa HP anaknya dari gambar atau isi negatif.
Punya cara lain? Silakan berbagi melalui Kidia.
*Cerita tentang bahaya internet terhadap anak dapat dilihat di http://www.oprah.com/article/oprahshow/20090318-tows-child-porn-bust.

