Turn off TV, Turn On Live
Oleh: Amelia Virginia
Bercita-cita untuk Menjadi Seorang Analis Media
"Apa yang salah dengan televisi?"
Kira-kira begitulah yang ada di dalam benak setiap anak ketika kita memintanya untuk mengurangi jam menonton TV. Memang, tampilan visual dan audio yang dimiliki TV jauh lebih menghibur daripada buku pelajaran. Bayangkan, buku pelajaran sekolah hanya dipenuhi oleh dua warna, hitam dan putih. Sementara TV menampilkan berbagai jenis warna dengan komplit, serta suara-suara yang membuat efek hiburan semakin bertambah. Hampir semua anak tidak tahan terhadap godaannya.
Di balik semua godaan televisi yang begitu fantastis, ternyata ada semacam disfungsi yang perlu dikritisi. Menurut dr. Sujatmiko, anggota pengurus pusat Ikatan Doktor Anak Indonesia (IDAI), pola menonton televisi yang berlebihan dapat merusak mata dan menghambat perkembangan motorik anak. Saat menonton televisi, anak tidak diberi kesempatan untuk menggerakan tubuhnya-kecuali untuk beberapa program televisi yang sehat. Mereka hanya menggunakan mata untuk memerhatikan visual dan telinga untuk menangkap audio. Padahal, televisi selalu memproduksi sinar biru yang dapat merusak mata anak.
Sementara mata dan motorik anak terganggu, mental anak pun ikut terganggu ketika menonton televisi. Bagaimana tidak, sejumlah program yang tersaji di layar kaca itu hampir semuanya tidak memihak kepentingan anak. Program siaran itu rata-rata berisikan informasi dan film yang semestinya ditujukan bagi orang dewasa. Tidak heran jika ada kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak. Bahkan, beberapa di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dampak negatif itulah yang coba dikurangi oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) bersama koalisinya. Melalui sebuah kampanye yang disebut sebagai Hari Tanpa TV (HTT), YPMA dan para koalisi berusaha untuk menyadarkan masyarakat agar mengonsumsi televisi dengan baik, serta mengingatkan para praktisi televisi untuk membuat program acara yang lebih memihak kepentingan anak.
HTT 2009 dipilih pada hari minggu, 26 Juli. Sebelum melaksanakan hari tersebut, empat hari sebelumnya pihak YPMA mengadakan konverensi pers (23 Juli 2009). Konverensi pers yang dihadiri oleh para koalisi HTT dan teman-teman pers, diadakan di gedung Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Hari itu, sekali lagi YPMA menyerukan bahwa Hari Tanpa TV bukanlah anti TV.
Untuk melengkapi HTT yang akan diadakan tanggal 26 Juli, maka YPMA dan para koalisi mengadakan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia. Aksi damai dilakukan pada hari Jumat (24 Juli 2009). Saat melaksanakan aksi damai, YPMA ditemani oleh para koalisinya. Mereka semua mengelilingi bundaran Hotel Indonesia dengan membawa umbul-umbul dan membagikan stiker serta flyer Hari Tanpa TV. Bahkan Ibu Fetty Fajriati dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyempatkan diri masuk ke dalam mikrolet untuk membagikan flyer, ketika lampu merah menyala.
Aksi damai yang berlangsung selama satu setengah jam itu, dimeriahkan oleh penampilan teatrikal dari teman-teman IISIP Jakarta. Dengan mengenakan kostum yang cukup menarik perhatian publik, mereka pun mementaskan sebuah drama pendek. Drama ini dimulai dengan menggambarkan sekelompok siswa Sekolah Dasar--yang tentu saja diperankan oleh para mahasiswa--yang sedang menonton televisi. Lambat laun mereka pun tersihir oleh televisi dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh televisi. Benar-benar ironis. Kisah ironis ini kemudian ditutup oleh sebuah tarian.
Tidak hanya para peserta aksi damai yang tertarik dengan penampilan teman-teman IISIP itu, para wartawan pun sibuk mencari celah untuk memotret aksi teatrikal itu. Persembahan drama yang disajikan oleh teman-teman IISIP ternyata juga menarik perhatian para pengedara kendaraan. Dari balik kaca mobilnya, mereka mencuri pandang penampilan itu. Bahkan, ada yang sengaja membuak kaca mobilnya untuk. Pengendara motor pun ikut menonton teatrikal itu sambil menunggu lampu merah.
HTT tidak hanya menawarkan sebuah kritik terhadap televisi, tetapi juga memberikan solusi yang dapat dilakukan tanpa televisi. Salah satunya adalah bermain. Dengan bermain, maka syaraf-syaraf motorik pada anak pun ikut terlatih. Untuk memperingati HTT 26 Juli 2009, YPMA mengajak anak-anak bermain di Taman Refleksi Monumen Nasional. Di sana, anak-anak diajak untuk bernyanyi, menggambar, serta mengikuti berbagai macam permainan.
Acara HTT 2009 dibuka dengan bermain ular tanggal Pendidikan Media. Ular tangga ini sebenarnya sama seperti ular tangga pada umumnya, hanya saja bentuknya lebih besar. Ukurannya memang sengaja dedesain besar agar anak-anak bisa berloncat-loncat di sana layaknya sebuah pion ular tangga. Selain bentuknya yang besar, ular tangga ini juga memiliki keunikan lain, yaitu isinya yang memuat seputar pendidikan media. Jadi, sambil bermain, anak-anak juga belajar tentang media.
Setelah itu acara dilanjutkan dengan Mendongeng. Bersama Kak Heru Si Pendongeng, anak-anak yang berada di sekitar Taman Refleksi diajak untuk bermain dan bernyanyi. Dengan sebuah gitar, boneka-boneka mungil, dan latar belakang bergambar pemandangan, Kak Heru pun mendongengkan kisah Si Kelinci dan teman-temannya. Di sela-sela dongengnya, Kak Heru mengajak anak-anak untuk bernyanyi dan bermain tebak lagu. Anak-anak begitu anstusias untuk mengikuti acara yang dibawakan oleh Kak Heru itu.
Setelah asyik mendengar cerita Kak Heru, anak-anak mengikuti lomba-lomba yang diadakan oleh YPMA. Lomba-lomba tersebut anatara lain adalah mewarnai, menggambar, origami, dan puzzle. Lomba ini dapat diikuti oleh anak-anak yang ada di sekitar Taman Refleksi Monumen Nasional dan diadakan secara serentak. Setelah itu, barulah pemanang lomba-lomba diumumkan.
HTT mengingatkan kita semua untuk tidak perlu memusuhi televisi. Bagaimanapun juga, televisi ada di dalam setiap keluarga. Sifat menghibur yang dimiliki televisi pun dapat kita manfaatkan dengan baik-dengan cara mengonsumsinya secara tepat. Untuk itu, pola menonton televisi perlu diimbangi dengan kegiatan bermain yang lebih mengutamakan syaraf motorik. Dengan demikian, kita tidak perlu risau lagi dengan dampak negatif ataupun disfungsi yang ditimbulkan televisi. Turn off TV turn on live, bukan cara untuk memusuhi televisi, hanya sebuah cara untuk mendapatkan pola hidup bermedia yang sehat.
(Kidia)
