HARI TANPA TV dan Setelahnya
oleh Nina Mutmainnah (aktivis Yayasan Pengembangan Media Anak)
Bagi banyak anak, TV adalah sahabat yang baik. Ia menghibur dan menemani anak mengisi waktu luangnya. Saat anak merasa tidak punya kegiatan, saat ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, "lari" ke TV adalah hal yang paling mudah dilakukan anak di rumah.
Yang jadi masalah, tanpa disadari oleh anak, TV sebenarnya bukanlah sahabat baik, dalam arti senantiasa memberi pesan yang baik dan sehat bagi anak. Muatan TV banyak berisi kekerasan, seks, mistik, bahasa kasar, dan sebagainya -muatan yang jelas-jelas punya potensi menimbulkan dampak buruk bagi anak.
Pengaruh TV ini besar terutama karena TV punya kemampuan menyihir anak. Anak dapat terpaku berjam-jam menikmati acara TV sehingga melupakan aktivitas penting lain yang harus dilakukan anak, seperti belajar atau bermain.
Kondisi ini diperparah dengan buruknya pola menonton TV anak. Secara umum pola menonton TV anak adalah: tidak ada batasan waktu menonton TV, tidak ada seleksi acara yang boleh ditonton anak, dan tidak ada pendampingan orangtua saat anak menonton TV.
Industri penyiaran kita berkembang dengan tidak memperhatikan aspek perlindungan pada anak. Banyaknya acara dewasa yang ditayangkan pada jam anak biasa menonton TV atau banyaknya film animasi dan sinetron anak berisi muatan tidak sehat untuk anak adalah contoh betapa wajah TV kita sangat tidak ramah pada anak.
Kondisi-kondisi inilah yang membuat timbulnya Gerakan HARI TANPA TV yang dikampanyekan setiap tahun oleh Koalisi Nasional Hari Tanpa TV sejak 2006. Kampanye ini terkait dengan peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli. Koalisi terdiri dari sejumlah LSM, organisasi mahasiswa, sekolah, dan universitas. Kampanye dilaksanakan di berbagai wilayah secara serentak.
Untuk tahun ini, Hari Tanpa TV jatuh pada hari Minggu 26 Juli 2009. Informasi tentang kampanye ini dapat dilihat pada situs www.kidia.org atau http://www.facebook.com/group.php?gid=118078368760; http://groups.to/haritanpatv/. Dukungan terhadap kampanye ini dapat dikirimkan melalui SMS ke nomor 0812-1002-4009.
Hari Tanpa TV merupakan pernyataan keprihatinan masyarakat terhadap isi acara TV dan waktu penayangan yang tidak sehat dan tidak aman untuk anak-anak. Jadi sesungguhnya, Hari Tanpa TV adalah pesan penting dari masyarakat bagi pihak industri TV agar lebih bertanggungjawab dalam memproduksi dan menayangkan isi siaran.
Kegiatan Hari Tanpa TV sama sekali tidak dimaksudkan untuk memusuhi TV atau anti-TV. Tak bisa dipungkiri bahwa TV juga memberikan banyak manfaat dan tidak semua acara yang disediakan di TV buruk untuk anak.
Kampanye ini dimaksudkan untuk menimbulkan kesadaran agar masyarakat seharusnya menggunakan TV dengan bijak untuk melindungi anak-anak. Ini adalah wujud nyata dari kesadaran akan pentingnya bermedia dengan cerdas dan kritis.
Di samping pihak industri TV, yang menjadi sasaran kampanye ini adalah para orangtua, terutama yang memiliki anak yang masih kecil. Pada Hari Tanpa TV itu, seluruh keluarga di Indonesia, khususnya mereka yang memiliki anak usia pra-sekolah dan SD diajak untuk tidak menonton TV selama sehari dan menggantinya dengan melakukan aktivitas lain yang lebih berarti. Kampanye ini mengajak orangtua untuk membuktikan bahwa TV bukanlah satu-satunya pilihan hiburan yang mereka miliki.
Pada Hari Tanpa TV, orangtua dapat bersama-sama anak melakukan kegiatan lain untuk menikmati hidup. Memasak bersama, bermain sepeda, berjalan-jalan, main petak-umpet, mengunjungi saudara dan kerabat, membaca buku cerita, dan berkebun, merupakan sedikit kegiatan yang dapat dilakukan sebagai pengganti menonton TV.
Aktivitas bersama orangtua - anak tersebut pastilah akan membuat makin eratnya hubungan antar anggota keluarga. Ketimbang anak menonton TV sendirian, yang berarti membuat anak menikmati dunianya sendiri dan seperti terisolasi dari lingkungannya, sudah barang tentu kegiatan-kegiatan bersama tadi jauh lebih memberikan manfaat.
Kegiatan Hari Tanpa TV memang sengaja dipilih jatuh di hari Minggu. Pada hari libur tersebut acara anak berlimpah di layar kacar mulai dari Subuh. Godaan untuk menonton TV pun jauh lebih besar karena waktu luang lebih banyak. Nah, berusaha menahan diri untuk tidak tergiur menyalakan TV pada hari itu adalah bentuk latihan yang bagus bagi anak sekaligus orangtua.
Setelah satu hari itu, lalu apa? Menonton TV kembali dengan kebiasaan yang sama seperti semula?
Kampanye Hari Tanpa TV bukan kegiatan "satu-hari-selesai". Kampanye ini juga mengajak agar di kemudian hari masyarakat dapat mengurangi jumlah jam menonton TV dan kritis memilih tayangan yang aman dan sehat. Para ahli menyarankan anak menonton TV tidak lebih dari dua jam sehari. Selain itu seleksi terhadap acara TV harus dilakukan: yang buruk untuk anak jangan ditonton.
Banyak orangtua yang bukan saja tidak kritis terhadap acara, tetapi bahkan tidak peduli pada acara yang ditonton anaknya. Dalam survei yang saya lakukan dengan dukungan YPMA bulan Maret lalu kepada hampir 200 siswa kelas 5 SD di Jakarta, banyak anak yang menyatakan mereka suka menonton Inayah, Suami-Suami Takut Istri, dan Cinta Fitri. Ini semua adalah sinetron bermuatan dewasa. Belum lagi, banyak orangtua yang membiarkan anaknya menonton film animasi tanpa pernah mengecek muatan film animasi itu apa. Sebagai contoh, film-film animasi yang digemari anak semacam Naruto, Bleach atau One Piece bukan hanya dipenuhi adegan kekerasan, tetapi juga mistik dengan bumbu muatan dewasa.
Bayangkanlah bila gerakan Hari Tanpa TV diikuti oleh jutaan keluarga. TV komersial sangat tergantung pada jumlah penonton. Jumlah penonton yang besar akan mendatangkan iklan. Iklan inilah yang menghidupi stasiun TV.
Jika makin banyak keluarga yang mengikuti ajakan untuk mengurangi jumlah jam menonton TV, maka besar sekali artinya bagi industri penyiaran. Dengan demikian pihak stasiun TV pasti akan memperhatikannya. Diharapkan ini akan membuat mereka dapat lebih bertanggungjawab untuk memproduksi dan menayangkan acara yang ramah-anak.
Jadi, dengan mengikuti kampanye Hari Tanpa TV, setiap orang bukan saja mengundang kebaikan bagi keluarganya, tetapi juga menyumbang bagi perbaikan masyarakat.
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Madina no. 18 Th. II, Juli 2009 dengan beberapa penambahan
(Kidia)

