Pengantar
Empat hari menjelang pelaksanaan HARI TANPA TV 2008 atau tepatnya 18 Juli 2008, kita semua dikejutkan dengan meninggalnya seorang anak usia 9 tahun di Pontianak karena bermain ’mati-matian’. Permainan itu menyebabkan anak tersebut terjerat tali ayunan bayi adiknya dan selang beberapa menit kemudian ibunya mendapati bahwa anak tersebut sudah meninggal. Adiknya yang lain mengatakan bahwa mereka sedang menirukan adegan seperti dalam televisi.
Kejadian itu seperti itu, sangat mungkin terjadi pada siapa saja bahkan pada orang-orang di sekitar kita. Untuk hal-hal seperti itulah maka kita harus memberi perhatian khusus agara kejadian yang tidak kita inginkan tidak menimpa keluarga, kerabat, atau teman kita.
Perlu ada upaya untuk melakukan pengaturan dalam menggunakan media, terutama televisi. Perlu ada upaya untuk mengurangi ketergantungan anak pada televisi.
HARI TANPA TV (HTT) adalah gerakan yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memahami bahwa televisi bisa menimbulkan akibat yang fatal pada anak-anak kalau kita tidak waspada. Gerakan ini bukanlah gerakan yang memusuhi televisi, namun lebih mengajak siapa saja untuk cerdas dan kritis dalam mengkonsumsi tayangan televisi agar terhindar dari dampak negatifnya.
Apabila Anda sepakat dengan pemikiran itu, maka marilah bergabung dan ajak rekan-rekan, saudara, teman kantor, tetangga, dan siapa saja untuk mengikuti kegiatan ini. Makin banyak kelompok masyarakat yang mengikuti kegiatan ini, maka makin kuatlah kelompok ini sehingga akan lebih diperhatikan.
Dalam Buku Panduan Pelaksanaan HARI TANPA TV 2009 ini, Anda akan mendapatkan gambaran mengenai alasan perlunya ada kegiatan seperti ini, dan bagaimana berpartisipasi di, Minggu 26 Juli 2009.
Sebagai kegiatan tahunan, pelaksanaan kegiatan seperti ini akan terus dikembangkan sehingga nantinya akan banyak diikuti oleh warga masyarakat. Kita perlu menunjukkan bahwa apabila masyarakat kita dapat bersatu menolak tayangan televisi yang tidak berkualtis, maka acara tersebut bisa dihentikan penayangannya.
Mudah-mudahan kita semua selalu memiliki semangat dan kekuatan yang besar dalam memperjuangkan kepentingan anak-anak kita.
Jakarta, Juni 2009
B. Guntarto
Steering Committee
Koalisi Nasional HARI TANPA TV 2009
Bagian 1
Latar Belakang dan Tujuan
TV memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. TV dapat menjadi sumber informasi dan edukasi yang sangat handal. Namun TV juga dapat menjadi sumber hiburan yang tiada henti.
Aktivitas menonton TV memangkas waktu interaksi dalam keluarga, menimbulkan dampak negatif berupa peniruan dan penanaman nilai pada anak-anak dan remaja, berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dsb. Fungsi siaran TV sebagai hiburan jauh lebih menonjol dibanding dengan fungsi yang seharusnya bisa diperankan berupa informasi dan edukasi. Keluarga yang mengalokasikan waktu yang lebih sedikit untuk menonton TV, akan mempunyai lebih banyak waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lebih posistif, interaktif dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) th 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja. Dalam setahun, jumlah jam menonton TV ini mencapai lebih dari 1.500 jam. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di sekolah dasar negeri selama 1 tahun yang hanya sekitar 750 jam.
Secara umum dapat dikatakan bahwa ketergantungan anak pada tayangan TV sudah sangat tinggi dan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ada beberapa fakta yang dapat menggambarkan ketergantungan itu:
Pertama, belum terbentuk pola kebiasaan menonton TV yang sehat. TV masih menjadi hiburan utama keluarga yang dikonsumsi setiap hari dalam waktu yang panjang tanpa seleksi yang ketat.
Kedua, kebanyakan isi acara TV kita tidak aman dan tidak sehat untuk anak. Banyak acara TV dengan kandungan materi untuk orang dewasa yang ditayangkan pada jam-jam anak biasa menonton dan kemudian disukai dan ditiru oleh anak-anak. Contoh yang ekstrim, peniruan adegan laga dalam tayangan TV oleh anak telah menimbulkan beberapa korban jiwa.
Ketiga, lemahnya peraturan bidang penyiaran dan penegakannya. Sejak indutri televisi berkembang pesat, permasalahan yang terkait dengan isi tayangan makin membesar dan hingga kini belum terlihat upaya penanganan secara serius.
Untuk itulah perlu ditumbuhkan sikap kritis anak-anak, remaja, orangtua, dan seleuruh lapisan masyarkat dalam menggunakan televisi, agar dapat terhindar dari dampak negatifnya dan dapat mengoptimalkan fungsi televisi sebagai sumber informasi dan pengetahuan. Sikap kritis tersebut dapat berupa perilaku cerdas dalam mengkonsumsi media, dalam arti dapat memilih isi media yang sesuai, dan dapat membatasi jumlah jam menggunakan media dengan bijak.
Salah satu cara menumbuhkan sikap kritis tersebut adalah dengan mengajarkan Pendidikan Media pada anak melalui guru di sekolah dan orangtua di rumah. Selain akan menumbuhkan sikap kritis, Pendidikan Media juga dapat menjadi penangkal dampak negatif media pada anak. Dalam beberapa tahun ini, Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) sedang mengembangkan Pendidikan Media dengan dukungan dari UNICEF.
Pengajaran Pendidikan Media juga dapat dilakukan melalui berbagai jalur seperti seminar pengasuhan anak untuk orangtua, kegiatan semacam pelatihan jurnalistik untuk siswa, melalui jalur kerohanian dan kelompok keagamaan, tulisan populer di media massa, talkshow di radio, pelajaran di sekolah, dan sebagainya.
Pengertian dan tujuan
HARI TANPA TV adalah wujud nyata dari kesadaran akan pentingnya bermedia secara cerdas dan kritis pada seluruh lapisan masyarakat, terutama pada keluarga-keluarga yang memiliki anak usia pra sekolah dan sekolah dasar. Melalui HARI TANPA TV 2009, masyarakat dan terutama keluarga muda diajak untuk kritis dan cerdas dalam mengkonsumsi siaran televisi, dengan cara mengurangi jumlah jam menonton televisi dan pemilihan acara yang aman dan sehat.
HARI TANPA TV adalah hari di mana keluarga-keluarga di Indonesia tidak menonton siaran televisi sehari penuh agar mereka dapat merasakan bahwa hidup bisa lebih bernilai ketika lebih banyak kegiatan lain dapat dilakukan secara bersama ketimbang menonton televisi. Pengalaman seperti ini sangat penting dimiliki oleh semua anggota keluarga untuk meyakinkan bahwa mereka tetap dapat menjalani kehidupan dengan menyenangkan meski tanpa TV.
Melalui HARI TANPA TV, kita bisa melakukan upaya untuk mengurangi ketergantungan anak dan keluarga pada televisi. Melalui HARI TANPA TV, kita bisa memperkenalkan kepada anak bahwa dalam menggunakan media termasuk televisi, ada aturannya. Aturan itu setidaknya menyangkut 2 hal: isi media mana yang boleh dan tidak boleh, serta berapa lama dan kapan anak-anak boleh mengakses media.
HARI TANPA TV juga dapat dimaknai sebagai pernyataan keprihatinan kita terhadap isi acara TV yang tidak sehat dan tidak aman untuk anak-anak. Apabila gerakan sehari tidak menonton TV ini diikuti oleh banyak warga masyarakat, maka pihak industri penyiaran pasti akan memperhitungkannya. HARI TANPA TV adalah bentuk pernyataan sikap masyarakat yang selama ini dianggap akan menerima saja apa pun yang ditayangkan oleh stasiun TV.
Target dari gerakan ini adalah keluarga yang memiliki anak usia pra sekolah dan sekolah dasar di seluruh wilayah Indonesia. Barangkali mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan tingkat ekonomi menengah-atas adalah kelompok masyarakat yang lebih siap dalam merespon gerakan ini. Sekalipun demikian, target dari gerakan ini tidak sebatas pada kelompok tersebut. Diharapkan sekitar 1 juta keluarga di seluruh Indonesia mengikuti Gerakan HARI TANPA TV.
Beberapa Fakta Tentang Tayangan TV
· Ada 3 kategori acara TV menurut peruntukannya bagi anak: AMAN, HATI-HATI, dan BAHAYA. Acara yang ‘AMAN adalah acara yang tidak banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis. Acara ini aman karena kekuatan ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak boleh menonton tanpa didampingi. Acara ‘HATI-HATI” adalah acara yang isinya bisa jad mengandung kekerasan, seks dan mistis namun tidak berlebihan. Tema cerita dan jalan cerita mungkin agak kurang cocok untuk anak usia SD sehingga harus didampingi ketika menonton. Sedangkan acara yang “BAHAYA” adalah acara yang banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis yang berlebihan dan terbuka. Daya tarik acara ini pada adegan tersebut.
· “Kidia” mencatat bahwa pada 2004 acara untuk anak yang ‘aman’ hanya sekitar 15%. Tahun 2006 meningkat menjadi sekitar 30%. Tahun 2007 dan 2008, angkanya tidak jauh bergeser. Terdapat kecenderungan penurunan acara yang masuk kategori ‘bahaya’. Namun, anak-anak juga menonton acara TV untuk kelompok usia lain yang tidak sehat dan tidak aman.
· Th 2006, jumlah acara TV untuk anak prasekolah / SD perminggu sekitar 80 judul ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Bandingkan dengan waktu dalam seminggu yang hanya 24 jam x 7 = 168 jam.
· Korban akibat menirukan adegan dalam TV:
WWF Smackdown
Reza Ikhsan Fadillah (9), Bandung (meninggal 16 Nopember 2006). I Made Adi S. Putra (8), Bandung, meninggal. Angga Rakasiwi (11), luka-luka. Fayza Raviansyah (4), Bandung, luka dan muntah darah. Ahmad Firdaus (9), Bandung, pingsan. Nabila Amal (6), Bandung, patah tulang. Mar Yunani (9), Yogyakarta, gegar otak. Yudhit Bedha Ganang (10), Jakarta Selatan, luka pada kepala dan kemaluan. Angga Riawan (12), Sukabumi,luka-luka. Fuad Ayadi (9), Madura, luka-luka. M. Arif (11), Jambi, luka-luka. M.Hardianto (11), Kendari, luka-luka. Fikro Haq (7),Balikpapan, luka-luka.
Naruto
Di Semarang, Revino (10 tahun), seorang anak pendiam kelas 4 SD, ditemukan tewas tergantung dikamarnya pada pertengahan Januari 2008. Kejadian ini diduga karena Revino menirukan aksi Naruto sehingga ia terjerat ikat pinggang saat berlagak sebagai ninja laiknya Naruto.
Kasus di Pontianak
Di Pontianak, seorang anak berusia 9 tahun, Agung Mulyono, tewas karena meniru adegan gantung diri di TV. Pada saat kejadian korban bermain “mati-matian” bersama dengan kedua adiknya. Korban meninggal karena tergantung, seperti adegan gantung diri, seperti yang sering ia lihat di TV. Berita ini ditayangkan di SCTV bulan Juli 2008.
Bagian 2
Pelaksanaan HARI TANPA TV
Pengorganisasian HTT
Secara nasional, penyelenggara Hari Tanpa TV adalah Koalisi Nasional Hari Tanpa TV. Untuk kepentingan formal dan hubungan dengan pihak pemerintah dan keamanan, maka penyelenggaraan Hari Tanpa TV diwakili oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA). Namun dalam melakukan perencanaan kegiatan dan dalam menjalankan kegiatan ini, dibentuk sebuah Steering Committee (SC) yang terdiri atas berbagai unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Steering Committee Koalisi Nasional Hari Tanpa TV berkedudukan di Jakarta.
Anggota Steering Committee Koalisi Nasional Hari Tanpa TV adalah mereka yang dapat mewakili keberadaan dan kepentingan stake holders. Mereka adalah:
1. B. Guntarto (YPMA) - Ketua merangkap anggota
2. Hendriyani (FISIP Universitas Indonesia) - Anggota
3. dr. Sudjatmiko (Ikatan Dokter Anak Indonesia) - Anggota
4. Tatty Elmir (Forum Indonesia Muda) - Anggota
5. Santi Indra Astuti (Basscomms Bandung) - Anggota
Steering Committee Koalisi Nasional Hari Tanpa TV bertanggungjawab terhadap keseluruhan penyelenggaraan acara HTT. Sebagai pelaksana operasional, dibentuk Panitia Pusat Koalisi Nasional HTT yang mengurusi pelaksanaan HTT di tingkat nasional, dan melakukan koordinasi dengan pelaksana daerah. Untuk DKI Jakarta, koordinasi akan langsung dilakukan oleh Panitia Nasional. Sedangkan untuk masing-masing daerah, dibentuk Panitia Daerah Koalisi Nasional Hari Tanpa TV.
Susunan Panitia Pelaksana HTT di tingkat Nasional akan disusun pada bulan April 2009 dengan melibatkan berbagai lembaga pendukung utama.
Pengorganisasian HTT terdiri atas:
1. Steering Committee
2. Panitia Nasional / DKI Jakarta
3. Panitia Daerah
Sedangkan untuk melaksanakan kegiatan HTT, dibedakan antara:
A. Pelaksanaan Hari Tanpa TV di Tingkat Nasional
B. Pelaksanaan Hari Tanpa TV di Jakarta dan sekitarnya
C. Pelaksanaan Hari Tanpa TV di daerah.
PENGORGANISASIAN HARI TANPA TV
A. Pelaksanaan HARI TANPA TV di Tingkat Nasional
Di Tingkat Nasional, pelaksanaan Hari Tanpa TV dilakukan oleh Panitia Nasional Koalisi Hari Tanpa TV yang beranggotan lembaga-lembaga pendukung utama. Panitia Nasional juga mengkoodinir mitra daerah dalam melaksanakan Hari Tanpa TV.
Agenda kegiatan HTT tingkat nasional adalah:
1. Jumat 3 Juli : Kepastian mitra untuk bergabung dalam HTT 2009
2. Jumat 10 Juli : Materi kampanye HTT mulai didistribusikan ke mitra
3. Rabu 22 Juli : Press Conference HTT 2008 di Jakarta
4. Jumat 24 Juli : Aksi Damai di Bundaran Hotel Indonesia, dan berbagai kota di Indonesia
5. Minggu 26 Juli : - Pelaksanaan Hari Tanpa TV 2009
- Penyelenggaraan kegiatan alternatif untuk anak
- Monitoring pelaksanaan HTT 2009.
B. Pelaksanaan HARI TANPA TV di DKI Jakarta dan sekitarnya
Pelaksanaan Hari Tanpa TV di DKI Jakarta dan sekitarnya dilakukan oleh beberapa lembaga yang tergabung dalam Koalisi Nasional ini. Kegiatan utama HTT di DKI adalah Aksi Damai pada hari Jumat-Sabtu, 24-25 Juli 2009, dan penyelenggaraan kegiatan alternatif untuk anak pada Minggu 26 Juli 2009.
Ada beberapa titik atau lokasi yang dapat digunakan sebagai tempat pelaksanaan Aksi Damai, misalnya:
1. Sekitar Pancoran
2. Perempatan Bypass - Jl. Pemuda - Jl. Pramuka
3. Sekitar Blok M / Sisingamangaraja Jakarta Selatan
4. Bunderan Senayan di Jakarta Barat
5. Depok, Bekasi, Tangerang dan wilayah-wilayah sekitarnya.
Aksi Damai adalah kesempatan dimana kita dapat berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat, dan mempersuasi mereka supaya bersedia mengikuti gerakan ini. Ada spanduk yang dibentangkan, ada poster-poster yang membawa pesan mengenai dampak TV pada anak dan remaja, pentingnya mengatur pola menonton TV pada anak, dan ajakan untuk tidak menyalakan TV sehari penuh pada hari Minggu, 26 Juli 2009. Materi utama kampanye berupa spanduk, flyer, poster, dan stiker, disediakan secara terpusat. Sangat disarankan untuk mengembangkan sendiri materi kampanye, sepanjang tidak melenceng dari koridor yang ditentukan. Apabila memungkinkan, selain membagi flyer sebaiknya dalam Aksi Damai tersebut ada segmen teatrikalnya.
Harus ditunjuk seorang koodinator Aksi Damai di masing-masing titik yang mewakili institusi. Ini diperlukan untuk kepentingan ijin/pemberitahuan ke pihak Polda Metro Jaya. Sejauh surat dan proposalnya jelas, biasanya Ijin/ pemberitahuan ke Polda tidak sulit.
C. Pelaksanaan HARI TANPA TV Tingkat Daerah
Mitra pelaksana HTT di daerah adalah mereka yang berminat untuk melaksanakan Hari Tanpa TV di daerah masing-masing, dengan melaksanakan serangkaian kegiatan yang garis besarnya sudah ditentukan. Mitra harus membuat perencanaan kegiatan dengan format sbb:
a. Latar belakang (paparan mengenai bagaimana lembaga/mitra milihat persoalan anak dan televisi)
b. Tujuan (tujuan yang ingin dicapai dengan pelaksanaan HTT)
c. Rencana Kegiatan (langkah-langkah yang akan dilakukan disertai dengan jadwal pelaksanaan, siapa pelaksananya, dan tempat pelaksanaan)
d. Susunan panitia pelaksana (Penasehat/pelindung, penanggungjawab, pelaksana lapangan, relawan, dsb)
e. Rencana anggaran dan sumber pendanaan.
Rencana kegiatan tersebut sudah harus diterima oleh Penyelenggara HTT paling lambat Rabu, 3 Juli 2009. Referensi kegiatan HTT di daerah, bisa dilihat di situs www.kidia.org.
KONTRIBUSI MITRA
Mengingat biaya pembuatan materi kampanye cukup besar, maka mitra diharapkan bersedia berkontribusi sesuai dengan kemampuan / rencana kegiatan masing-masing.
Ada 3 alternatif untuk mendapatkan materi kampanye, yakni:
a. Alternatif 1: Mendapatkan 2.000 teaser (selebaran); 200 flyer; 100 poster, dan 25 eks Panduan Kidia dengan biaya kontribusi: Rp 500.000,- termasuk ongkos kirim
b. Alternatif 2: Logo mitra akan dicantumkan dalam materi kampanye (apabila kepastian keikutsertaan bisa diberikan sebelum Jumat 3 Juli 2009), mendapatkan 1 buah spanduk ukuran 0,9x5m; 4.000 teaser (selebaran); 400 flyer; 200 poster; dan 50 eks Panduan Kidia, dengan biaya kontribusi Rp 1.000.000,- termasuk ongkos kirim
c. Alternatif 3: Logo mitra akan dicantumkan dalam materi kampanye (apabila kepastian keikutsertaan bisa diberikan sebelum Jumat 3 Juli 2009). Mitra akan mendapatkan 2 spanduk ukuran 0,9x5m; 7.500 teaser (selebaran); 750 flyer; 300 poster dan 100 eks Panduan Kidia, dengan biaya kontribusi sebesar Rp 3.000.000,- termasuk ongkos kirim.
Mengenai jumlah flyer, poster, stiker dan sebagainya apabila dirasa kurang sesuai dengan kebutuhan, dapat dibicarakan lebih lanjut. Apabila mitra berkeinginan agar logo lembaga dimasukkan dalam materi-materi kampanye, maka logo tersebut harus sudah diterima paling lambat hari Rabu 1 Juli 2009.
Seluruh kontribusi mitra dan biaya pengiriman materi kampanye HTT dikirimkan paling lambat hari Senin, 6 Juli 2009 melalui transfer ke:
Yayasan Pengembangan Media Anak,
Bank Mandiri KK Jkt Pondok Kelapa Kavling DKI
No. 006-00-0561113-6.
Bagian 3
Pelaksanaan HARI TANPA TV
Dari Waktu ke Waktu
HARI TANPA TV 2006
Pada awalnya gerakan Hari Tanpa TV ini merupakan gagasan dari Komunitas TV Sehat dan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) yang melakukan Kampanye TV Sehat di berbagai sekolah di Jakarta dan Bandung. Ternyata ide yang sama juga muncul dari Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH), yang bahkan sudah melakukan sosialisasi ke berbagai acara yang melibatkan Elly Risman (Ketua Yayasan) dan telah mendapat dukungan dari jejaring YKBH. Kedua organisasi (YPMA dan YKBH) memutuskan untuk merealisasikan ide tersebut bersama-sama pada Hari Anak Nasional, 23 Juli 2006.
Konsep gerakan Hari Tanpa TV dirumuskan bersama dalam pertemuan beberapa LSM yang diadakan di UNICEF yang dihadiri oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH), Makara UI, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Yayasan Lentera Insan. Selanjutnya menyusul dukungan dari beberapa lembaga lain yakni Forum Komunikasi Jam’iyyah Sekolah Islam Al-Azhar, Yayasan Pendidikan Islam Al-Fajri, YPM Salman ITB Bandung, Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi (MTP), dan Persaudaraan Muslimah. Pematangan konsep dilakukan melaui berbagai pertemuan.
Kegiatan ini diawali dengan konfrensi pers yang diadakan di Hotel Sofyan Cikini, pada Selasa 18 Juli 2006. Konfrensi dihadiri oleh sekitar 50 peserta. Undangan pers yang hadir yaitu Hidayatullah, Harian Ibu Kota, Koran Tempo, Tarbawi, Kompas.com, Ummi, Annida, Radio Female, Pos Kota, Alia, Koran Sindo, Media Indonesia, ANTV, Suara Pembaruan, Media Indonesia, HU Republika, Indo Pos, Trust, Hidayatullah.com, Warta Kota, Antara.
Pada Jumat, 21 Juli dilakukan aksi damai di Bundaran HI yang diikuti oleh sekitar 60 peserta dari berbagai ormas dan LSM serta individu. Aksi bergerak di tiga titik. Titik pertama dari samping kiri Hotel Nikko bergerak ke depan Hotel Nikko. Titik kedua memusat di lampu merah dekat bundaran, dan selebihnya bergerak di sekitar trotoar untuk menjangkau para pejalan kaki. Pada aksi ini, peserta membagikan beberapa materi kampanye yaitu brosur dan flyer, serta membentangkan spanduk-spanduk berisi himbauan untuk menonton TV secara sehat dan mematikan TV pada hari Minggu 23 Juli 2006. Selain itu, yang cukup menjadi pusat perhatian dari aksi ini adalah happening art yang dilakukan oleh mahasiswa sastra UI. Happening art ini menggambarkan sejauh mana TV berdampak pada pola perilaku.
Himbauan juga dilakukan melaui posting di berbagai mailing list yakni jurnalisme, mediacare, pasarbuku, dan kalam_salman. Sampai pada hari-H terkumpul sektar 400 e-mail dukungan yang kebanyakan berasal dari pribadi. Yang menarik dari penyebaran informasi melalui media elektronik ini adalah adanya kecenderungan tinggi untuk menyebarluaskan informasi pada mailing list atau e-mail personal. Ini tampak dari posting dukungan pada email kidia atau buah hati yang berasal dari mereka yang mengikuti salah satu mailing list tertentu (yang awalnya tidak dikirimi oleh panitia). Yang lebih menarik, tidak sedikit pendukung gerakan ini yang memasang informasi tentang gerakan Hari tanpa TV ini di blog-blog atau situs-situs pribadi mereka, antara lain http://bukamulut.blogspot.com, http://sundablog.blogspot.com, http://agusti anwar.multiply.com, http://lita. inirumahku.com/general/lita/hari-tanpa-tv/.
Sampai pada H-1 dukungan tertulis dari berbagai lembaga di Indonesia tercatat sekitar 160 buah, antara lain dari TK/SD Komunitas Semut-semut; Wanita Islam; TK/SD/SMP An Nisa Depok; TK/SD Ruhama Depok; TK Hanifa Ciputat; IGTK Sumatra Barat; TK/KB Lebah Madu; TK/SD Al Fikri Depok; TK Cempaka; TK/SD Qotrun Nada; Jam'iyyah Al Azshar Peduli; Sekolah Al Fajri; SDIT Insan Mandiri Pasar Minggu; BPTKI Sulawesi Selatan; TKIT/SDIT Az Zahra Jakarta Barat; Pesantren Cibogo; SD Islam At Taufik; SD Darussalam Bekasi; Permata Ayah Bunda Bandung; Majelis Ta'lim Assakinah; Pelajar Islam Indonesia; Sekolah Tugasku; PKS Jakarta Pusat; Wahdan Islamiyah Ujung Pandang; Majelis Ta'lim Assalam Bekasi; Majelis Ta'lim Bogor; SDIT Ar Ridho; Bapekis Bank of Tokyo; Mufti Kids School Tangerang. dan lain-lain.
Media yang memuat gerakan ini adalah:
• TV: ANTV, SCTV, Indosiar, TPI, TV7, Trans, Antara dan TVRI.• Radio yang mengadakan Talkshow : I-radio, Bahana, Delta, 68H, Female, Pesona FM, MQ Solo, RRI Pro2, Bens Radio, dll.
• Media Cetak: Kompas, HU Republika, Sindo, Warta Kota, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Suara Karya
• Internet : Detik.com, kompas.com, republika.co.id, bisnis.com, merdeka.com, solopos.co.id, analisadaily.com, gatra.com, suarakarya-online.com, ttp://groups.or.id/archive/?4::4, http://www.indomedia.com, http://www.motolovers.org/index.php?topic=1395.msg22376;topicseen#new, http://www.kilasan.com/, http://pk-sejahtera.org/; http://psb.alazhar. ac.id/, http://www.samarinda.go.id http://glorianet.org/,
• weblog dan situs-situs pribadi : http://www.indrani.net/, http://priyadi.net/ ; http://lita.inirumahku.com/, http://solyaris.wordpress.com/ http:// timpakul.hijaubiru.org/, http://schizoroom.multiply, com; http://www. triaji.net /blog/, http://muhamadikhsan.info/ http://ip.sg.or.id/, http://www.dwimalistyo.com/, http://forum.upi.edu/, http://afsyuhud. blogspot.com/, http://www.id-gmail.info/, http://diantn.free.fr/dp/, http://sahabat.web.id/stikom/; http://ryosaeba.wordpress.com/, http:// yulian.firdaus.or.id/, http://jalansutera.com/, http://ip.sg.or.id/, http:// aryanugraha.wordpress.com/, http://ardi.kuncoro.org/, http://www. masdapit.org/, https://wadehel.wordpress.com/, http://komunitas. muslimblog.net/, http://luthfi.wordpress.com/, http://www.mbelienkz. net/wp/, http://standalone.blogsome.com/; http://www.biasawae.com/, http://www.weblogsyndicate.com/
HARI TANPA TV TAHUN 2007
Rangkaian kegiatan Hari Tanpa TV 2007 berpusat di Jakarta dan dimotori oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) dan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH). Didukung oleh kurang lebih 20 lembaga lain, rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Tanpa TV 2007 dimulai dengan acara jumpa wartawan yang dilaksanakan di gedung Pasca Sarjana Komunikasi UI, Salemba, Rabu, 18 Juli 2007. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta yang terdiri dari rekan pers dari Republika, Sinar Harapan, Wanita Indonesia, LKBN Antara, Media Indonesia, Adil, Tarbawi, Alia, TVRI, dan TVE Diknas.
Pembicara dalam acara Jumpa Wartawan ini antara lain Nina M. Armando (YPMA), Elly Risman, Psi (YKBH), B. Guntarto (YPMA), dan dimoderatori oleh Hasyim (Mahasiswa Berprestasi dari UI). Secara umum, dalam acara ini para pembicara menyampaikan mengenai latar belakang diadakannya Hari Tanpa TV, era screen age yang menjadi momok bagi anak-anak di seluruh dunia, hingga teknis pelaksanaan Hari Tanpa TV 2007.
Sebagai lanjutan rangkaian kegiatan Hari Tanpa TV 2007, pada hari Jumat, 20 Juli 2007, bertempat di Bundaran Hotel Indonesia, dilakukan Aksi Damai dalam rangka mensosialisasikan Gerakan Hari Tanpa TV 2007. Aksi ini diikuti oleh sekitar 90 orang dari 65 lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, organisasi massa, dan individu yang berperan serta dalam membentangkan spanduk dan baliho, mengusung benner dan nomor dukungan, membagikan stiker, poster, dan flyer berisi himbauan untuk mematikan TV selama satu hari pada Minggu, 22 Juli 2007, serta informasi mengenai tempat liburan & rekreasi yang bermanfaat & menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga.
Aksi teatrikal berjudul “Monster TV” tentang dampak TV pada anak yang disuguhkan dengan sangat menarik oleh Mahasiswa UI juga cukup menarik perhatian. Penampilan ini, tidak hanya dapat dinikmati oleh rekan-rekan pers yang meliput aksi ini, namun juga para pengguna jalan yang berlalu lalang di sepanjang Bundaran HI.
Apa yang dapat dilakukan selama TV mati selama sehari itu? Aksi Hari Tanpa TV belum selesai sampai di situ. Pada Hari H, Minggu, 22 Juli 2007, YPMA didukung oleh mitra-mitra yang bergerak di bidang pendidikan mengadakan kegiatan alternatif di Monas. Bersama dengan Yayasan Saraswati yang menjadi koordinator kegiatan ini, diadakan aksi teatrikal, berbagai perlombaan, hingga kegiatan bernyanyi bersama yang juga menjaring pengunjung yang kebetulan menghabiskan Minggu pagi di taman simbol kota Jakarta itu. Bukan hanya di Monas, di tempat yang berbeda, beberapa sekolah dan masyarakat juga ikut mengadakan acara kecil untuk membantu anak-anak menjauhi TV selama sehari.
YPMA juga mengadakan monitoring dengan membagikan angket yang diisi oleh berbagai kalangan masyarakat yang datang ke berbagai kegiatan yang berhubungan dengan Hari Tanpa TV. Angket ini juga dibagikan kepada masyarakat umum yang tinggal di beberapa daerah yang berusaha untuk dijangkau oleh para mitra. Hasil yang diperoleh dari angket tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini direspon dengan baik oleh masyarakat, lebih dari 80% responden mengaku melaksanakan Hari Tanpa TV di rumah masing-masing dengan berbagai cara. Untuk menjadikan aksi ini lebih bergaung dan dilaksanakan oleh lebih banyak masyarakat masih dibutuhkan kerja keras dan pekerjaan rumah bagi YPMA, YKBH, dan mitra-mitra pendukungnya.
Himbauan juga disebarluaskan melalui posting di berbagai mailing list, website Kidia, blog, sms berantai, e-mail, hingga artikel khusus di Panduan Kidia. Menariknya hampir semua himbauan ini mendapatkan tanggapan baik dari masyarakat. Hal ini terbukti dengan masuknya dukungan berupa 483 sms, 56 e-mail, 17 dukungan yang masuk ke buku tamu www.kidia.org, serta tanggapan yang sangat baik dari pengunjung yang datang ke Monas.
Bukan hanya itu, himbauan ini juga mendapatkan respon baik dari media, tidak hanya cetak, namun juga elektronik. Tidak kurang dari 20 media cetak, 16 media on-line yang mengulas dan menampilkan foto dari rangkaian kegiatan Hari Tanpa TV 2007. Selain itu, undangan talkshow di radio juga banyak diterima oleh pengurus YPMA, YKBH, dan para mitra.
Bukan hanya di Jakarta, gerakan Hari Tanpa TV 2007 telah meluas ke Bandung, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta. Di Bandung, Hari Tanpa TV yang dimotori oleh Bascomms menyelenggarakan pekan aksi yang dimulai pada tanggal 16-26 Juli 2007. Puncak aksi HTT berlangsung pada hari Sabtu, 21 Juli 2007 dalam talk show “Tanpa TV, Mungkinkah?” di Ruang Tengah Mizan Publishing House. Kegiatan lain yang dilaksanakan di Bandung a.l. Workshop Remaja “Jangan Mau Jadi Korban Iklan: Bedah Iklan secara Kritis”; Sosialisasi “Hari Tanpa TV”; Aksi Damai “Hari Tanpa TV” pada hari Sabtu, 21 Juli 2007, berpusat di Ciwalk; Aksi Hari Tanpa TV 2007, 22 Juli 2007; dan Monitoring Hari Tanpa TV, mulai Senin, 24 Juli 2007 hingga Jumat, 28 Juli 2007.
Di Surabaya, LKM menggelar program “Ayo Bermain” di Taman Prestasi Kebun Bibit Surabaya, sebagai program alternatif menonton TV pada puncak kegiatan HTT 2007. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kerjasama dengan Dinas Pertamanan Surabaya, Yayasan Asah Pena, dan Perpustakaan Kota Surabaya.
Di Medan, ide Hari Tanpa TV juga disebarluaskan melaui acara talk show di beberapa stasiun radio, sedangkan sosialisasi lebih dipusatkan di sekolah dan tempat kursus yang tersebar di Medan.
Di Yogyakarta, sosialisasi HTT 2007 dilaksanakan pada hari Jumat, 20 Juli 2007 di 5 titik strategis kota Yogyakarta. Kegiatan ini diliput oleh 4 koran besar, 4 stasiun TV nasional dan lokal, dan wawancara dengan 2 stasiun radio.
HARI TANPA TV TAHUN 2008
Rangkaian kegiatan Hari Tanpa TV 2008 berpusat di Jakarta dan dimotori oleh Koalisi Hari Tanpa TV yang didukung penuh oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA). Koalisi Hari Tanpa TV adalah koalisi yang dibentuk bersama oleh sekitar 30 lembaga pendukung kegiatan Hari Tanpa TV 2008.
Rangkaian kegiatan Hari Tanpa TV 2008 dimulai dengan acara Jumpa Wartawan yang diadakan di Ruang Pertemuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Menteng, Jakarta, Senin, 14 Juli 200. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 35 peserta yang terdiri dari rekan pers dari Bali TV, Koran Tempo, GATRA, Republika, Koran Anak Berani, kompas.com, Radio Ramako, Parents Indonesia, Media Indonesia, Koran Jakarta, Tumbuh Kembang, detik.com, Elshinta TV, AnTV, Pos Kota, eramusum.com, Radio CVC.
Pembicara dalam acara Jumpa Wartawan ini antara lain Nina M. Armando (YPMA-Koalisi Hari Tanpa TV), Fetty Fajriati M (Komisi Penyiaran Indonesia-KPI), Ibu Masnah Sari (Komisi Perlindungan Anak Indonesia-KPAI), Dedy Djamaludin Malik (Komisi I DPR-RI), dan dimoderatori oleh Mediana Handayani (Dosen FIKOM Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama)-Koalisi Hari Tanpa TV).
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Tanpa TV 2008, pada hari Jumat, 18 Juli 2008 dilangsungkan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia sebagai bagian dari upaya mensosialisasikan Gerakan Hari Tanpa TV 2008. Aksi ini diikuti oleh sekitar 60 orang dari berbagai lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, organisasi massa, dan individu. Kegiatan yang dilakukan di sekitar Bundaran Hotel Indonesia adalah membentangkan spanduk dan baliho berisi ajakan untuk mengikuti Hari Tanpa TV, mengusung benner dan nomor dukungan melalui SMS, membagikan stiker, poster, dan flyer berisi himbauan untuk mematikan TV selama satu hari, serta informasi mengenai tempat liburan & rekreasi yang bermanfaat & menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga.
Kegiatan yang sama dilaksanaakan juga di waktu yang berbeda di beberapa titik keramaian di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Beberapa titik tersebut antara lain perempatan Senayan yang dilaksanakan oleh anggota Koalisi Hari Tanpa TV dari Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dan Ikatan Abang dan None Jakarta Selatan (IKANS); Blok M, yang dilaksanakan oleh rekan-rekan Koalisi Hari Tanpa TV dari Universitas Al-Azhar Indonesia; Perempatan Margonda Depok, oleh rekan-rekan dari HMIK Universitas Indonesia; dan perempatan Metropolitan Mall, Bekasi, yang dilaksanakan oleh rekan-rekan PAUD Kodya Bekasi.
Aksi teatrikal berjudul “TV Mengendalikan Anda” tentang bagaimana TV dapat mempengaruhi anak-anak disuguhkan oleh Mahasiswa UI juga cukup menarik perhatian. Penampilan ini, tidak hanya dapat dinikmati oleh rekan-rekan pers yang meliput aksi ini, namun juga para pengguna jalan yang berlalu lalang di sepanjang Bundaran HI.
Apa yang dapat dilakukan selama TV mati selama sehari itu? Aksi Hari Tanpa TV belum selesai sampai di situ. Pada Hari H, Minggu, 20 Juli 2007, Rakan-rekan dari Yayasan Saraswati didukung oleh YPMA dan mitra-mitra yang bergerak di bidang pendidikan mengadakan kegiatan alternatif di Monas. Rangkaian kegiatannya terdiri dari aksi teatrikal, berbagai perlombaan seperti mewarnai, menggambar bebas, kegiatan belajar membaca, hingga kegiatan bernyanyi bersama yang juga menjaring pengunjung yang kebetulan menghabiskan Minggu pagi di taman simbol kota Jakarta itu. Di tempat yang berbeda, beberapa sekolah dan masyarakat juga ikut mengadakan acara kecil untuk membantu anak-anak menjauhi TV selama sehari.
Himbauan juga disebarluaskan melalui posting di berbagai mailing list, website Kidia, blog, sms berantai, e-mail, hingga artikel khusus di Panduan Kidia. Menariknya hampir semua himbauan ini mendapatkan tanggapan baik dari masyarakat. Hal ini terbukti dengan masuknya dukungan berupa 555 SMS, 16 dukungan yang masuk ke buku tamu www.kidia.org, serta tanggapan yang sangat baik dari pengunjung yang datang ke Monas. Tidak kurang dari 23 media cetak, dan mengulas dan menampilkan foto. Selain itu, undangan talk show di radio juga banyak diterima oleh mitra Koalisi Hari Tanpa TV.
HTT 2008 juga dilaksanakan di Bandung, Yogyakarta, Makassar, Medan, Bogor, dan Bekasi.
Kegiatan HTT 2008 didukung oleh:
1. Komisi Penyiaran Indonesia Pusat
2. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
3. Komnas Anak
4. Prasekolah Saraswati
5. Yayasan Kita dan Buah Hati
6. Salimah
7. Wanita Islam
8. Forum Indonesia Muda
9. Lentera Insan
10. Forum Komunikasi Jam’iyyah Sekolah Islam Al-Azhar
11. GENAP
12. PERWANAS
13. Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi
14. Universitas Indonesia – Paska Sarjana Ilmu Komunikasi
15. Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
16. Universitas Paramadina – Fakultas Imu Komunikasi
17. Universitas Al-Azhar Indoneia – Fakultas Ilmu Komunikasi
18. Universitas Sumatra Utara – Fakultas Psikologi
19. Ikatan Dokter Anak Indonesia Sumatra Utara, PLN Sumatra Utara, HIMPSI Sumatra Utara, BATAN, Lazuardi, SEJIWA, IKANS, HMIK Univeritas Indonesia, Koran Anak Berani, Daarut Tauhid Jakarta, Langkah Kita, Djakarta Public Society, PAUD UNJ, Pimpinan Pusat Aisyiyah, Perubahan/ Neno Educare, Center for Studies of Indonesian’s Education Reform, IGTK Bekasi, IMIKI Media Watch, dll.
-----
(*)- cupz, Kamis, 23 Juli 2009 15:18:21
hebat,, saya dukung HTT untuk menjadikan introspeksi bagi pihak TV. Kita harus dukung kemajuan ge...

