Anda mungkin punya simpanan kekayaan berlimpah ruah
Peti-peti perhiasan dan pundi-pundi emas
Namun kau tidak akan pernah bisa lebih kaya daripada aku
Aku punya bunda yang membacakan buku.
Tulisan di atas datang dari Strickland Gillilan, seorang Amerika, menjadi pembuka yang indah dari sebuah buku baru yang saya baca, Read-Aloud Handbook: Mencerdaskan Anak dengan Membacakan Cerita Sejak Dini. Buku ini ditulis oleh Jim Trelease, seorang jurnalis dan pendidik yang sering berbicara tentang anak, literatur, dan televisi.
Buku ini baru lahir akhir tahun lalu, diterbitkan oleh Hikmah - Mizan. Terbitan edisi Indonesia ini digagas dan menjadi bagian dari kampanye Reading Bugs, komunitas Read-Aloud Indonesia dan yang kini sedang giat berkampanye "30 menit membacakan cerita".
Sudah banyak orang tahu tentang pentingnya membaca. Namun mengapa sering dikeluhkan tentang rendahnya minat baca? Banyak orangtua dan guru mengeluh anak-anak tidak suka membaca. Apalagi di era TV, game dan Internet yang luar biasa sekarang, anak-anak dikeluhkan lebih suka lari ke media-media ini ketimbang membaca buku.
Dalam kondisi demikian, kita dapat mengambil manfaat dari buku Trelease ini. Buku ini meyakinkan kita bahwa setiap anak bisa menjadi penggemar bacaan. Penulisnya memberitahu cara-cara mewujudkannya.
Buku ini menjadi sangat aktual karena memberi juga kiat-kiat bagaimana agar anak-anak menjauh dari televisi, media yang sangat kuat "mencengkeram" anak masa kini. Trelease bahkan bicara tentang apa dan bagamana pelajaran penting dapat diambil dari internet, media yang justru dikeluhkan banyak orangtua karena membuat anak makin menjauh dari dunia bacaan.
Menurut Trelease, membuat anak mencintai buku dapat dimulai dari hal yang sesungguhnya sederhana dan mudah, yakni membacakan cerita kepada mereka sejak dini. Ini adalah soal kemauan dan kebiasaan yang harus ditumbuhkan dan dilakukan di rumah oleh orangtua dan di kelas oleh guru. Nah, Trelease memberitahu cara mewujudkannya.
Salah satu bagian dalam buku Trelease menjelaskan kepada kita, mengapa kok bisa, sesuatu yang sesederhana seperti membacakan buku kepada anak menjadi hal yang efektif. Secara sangat menarik dan mudah dipahami.
Trelease menjelaskan demikian:
Kita mulai dengan otak. Seperti halnya tonggak kayu yang sangat penting sebagai penyokong utama berdirinya sebuah rumah, kata-kata adalah struktur utama untuk pembelajaran. Hanya ada dua cara efisien memasukkan kata-kata ke dalam benak seseorang: melalui mata atau melalui telinga.
Karena anak masih butuh beberapa tahun lagi untuk membiasakan matanya membaca, sumber terbaik bagi ide dan pembangunan otak adalah telinga. Apa yang kita kirim ke telinga menjadi fondasi kuat bagi seluruh otak si anak. Suara-suara penuh penuh arti yang ditangkap telinga akan membantu anak memahami kata-kata yang dia dapatkan melalui mata saat ia nanti belajar membaca.
Itulah sebabnya Trelease mengajak orangtua dan guru untuk "read aloud", membaca lantang!
Sebenarnya, saat kita membacakan buku kepada anak, kita memiliki alasan yang sama seperti saat kita berbicara dengan anak: memberi kepastian, menghibur, menjalin ikatan, memberi informasi atau menjelasan, membangkitkan rasa ingin tahu, memberi inspirasi. Saat kita membaca lantang, ada manfaat tambahan yang kita berikan untuk anak, yakni mengkondisikan otak si anak untuk mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan, menciptakan informasi yang berfungsi sebagai latar belakang, membangun kosakata, dan memberikan sosok panutan yang gemar membaca.
Selama 30 tahun terakhir, riset-riset menunjukkan bahwa apa pun jenis kelamin, ras, kewarganegaraan, dan latarbelakang sosial ekonomi, terbukti bahwa siswa yang paling sering membaca adalah juga merupakan orang-orang yang mahir membaca, mencapai prestasi tertinggi, dan bersekolah lebih lama (dalam arti menempuh pendidikan hingga tingkat lanjut).
Demikian pentingnya membaca, hingga dikatakan bahwa membaca adalah faktor sosial terpenting dalam kehidupan sekarang. Trelease mengemukakan suatu formula menarik.
- Semakin banyak Anda mebaca, semakin banyak yang Anda tahu.
- Semakin banyak yang Anda tahu, semakin cerdas diri Anda.
- Semakin cerdas diri Anda, semakin Anda mencintai sekolah.
- Semakin Anda mencintai sekolah, semakin banyak diploma yang Anda dapatkan dan semakin lama Anda akan dipekerjakan -berarti semakin banyak uang yang Anda hasilkan selama Anda hidup.
- Semakin banyak diploma Anda miliki, semakin tinggi nilai anak-anak Anda di sekolah.
- Semakin banyak diploma Anda dapatkan, semakin lama usia Anda.
Oleh penulisnya, buku ini dinyatakan bukan sebagai buku tentang mengajari seorang anak bagaimana caranya membaca, tetapi buku ini tentang mengajari anak supaya mau membaca. Buku ini patut dimiliki karena tak terkira manfaat yang akan diperoleh setiap orang yang suka membaca.
Trealese mengemukakan sebuah rangkaian sebab-akibat yang menunjukkan betapa dahsyatnya arti membaca. Membaca paragraf ini mudah-mudahan membuat kita tergugah untuk mendorong anak kita membaca, membaca, dan membaca.
Beginilah ia menulis:
Membaca adalah senjata pamungkas, yang menghantam kebodohan, kemiskinan, dan ketersia-siaan sebelum semua hal tersebut menghancurkan kita. Bangsa yang tidak suka membaca tidak banyak tahu. Dan bangsa yang tidak banyak tahu pastinya akan membuat pilihan yang buruk di rumah, di bursa, di panggung pengadilan, dan di bilik pemilu. Dan keputusan-keputusan ini pada akhirnya mempengaruhi seluruh bangsa -yang melek maupun yang buta huruf.

