Pernahkah Anda melihat iklan TV Mie Sedap yang dibintangi oleh aktris Titi Kamal? Iklannya sangat bombastis, mengklaim bahwa mie instan tersebut "sedap dan bergizi".
Titi ditemani seorang gadis kecil. Ketika Titi bercerita tentang kehebatan Mie Sedap, si upik ini membayangkan kehebatan itu.
Dalam iklan dikatakan bahwa mie instan tersebut dibuat dari mie yang terbuat dari gandum berprotein tinggi setara sebutir telur. Si gadis kecil pun membayangkan tidak hanya sebutir telur, tetapi sekeranjang telur!
Kandungan vitamin Mie Sedap dalam iklan dikatakan setara empat gelas susu. Wow! Si upik pun membayangkan empat gelas susu itu. Dan ketika Titi mengatakan bahwa kandungan mineral Mie Sedap setara dengan air bayam, maka yang muncul adalah khayalan si gadis kecil tentang empat ikat bayam. Dengan semuanya itu, maka Titi dan si gadis kecil dengan nikmat memakan mie instan yang disebut "sudah sedap, bergizi lagi!".
Anak saya melihat iklan itu pertama kali saat ia kelas enam SD. Selama ini, ia hanya saya izinkan makan mie instan sekitar dua - tiga minggu sekali. Apa yang dikatakannya saat ia melihat iklan itu? "Bunda!," katanya dengan heboh, "Sekarang sudah ada mie instan yang bergizi! Ada kandungan telur, susu, dan sayur!"
Iklan tersebut telah "mempesona" anak saya. Maka yang saya lakukan kemudian adalah kembali berbicara kepadanya tentang seringnya klaim iklan yang berlebihan, tentang daya pengaruh iklan, dan tentang anak-anak yang paling sering dijadikan sasaran. Walau ia dapat menerima penjelasan saya, sesekali, saat ia menonton iklan Mie Sedap itu, ia berucap, "Lihat Bunda... Mie instan bergizi Bunda... Bergizi...!!" Hmmmm... anakku ini rupanya masih terkena juga daya sihir iklan... Biasanya, dialah yang justru mengkritik iklan yang berlebihan. Analisis saya, itu karena ia sebal betul dengan aturan tentang pembatasan konsumsi mie instan di rumah kami, padahal ia menggemari mie instan. Saya tertawa dalam hati.
***
Iklan Mie Sedap dapat dikatakan menyajikan klaim yang berlebihan. Kita tahu bahwa mie instan tidak disarankan untuk dikonsumsi berlebihan karena mengganggu kesehatan. Karena itu, kandungan gizi yang disebut sangat hebat ada di kandungan mie instan ini menurut saya dapat dikatakan potensial menyesatkan.
Iklan ini mengingatkan saya akan iklan Milkita yang beberapa waktu muncul di layar kaca kita. Iklan ini menampilkan seorang anak laki-laki yang berdiri di hadapan cermin sambil memakan permen Milkita. Namun, bayangan yang tampak di cermin bukan bayangan si anak makan permen, tetapi ia sedang minum segelas susu.
Klaim iklan ini memang "dua permen Milkita setara dengan segelas susu"! Jadi, seolah-olah, Milkita dapat menjadi pengganti susu. Benarkah????
Tayangkan tentang anak-anak yang tak suka minum susu tetapi sebaliknya sangat menggemari permen. Tentulah anak-anak akan memilih untuk makan permen Milkita dan tidak minum susu! Toh anak-anak -berdasarkan klaim iklan Milkita- dapat berargumen bahwa mereka sesungguhnya sudah minum susu hanya dengan makan permen Milkita. Hhhhh...
***
Anak-anak memang sangat mudah terkena pesona iklan. Banyak studi menunjukkan betapa ampuhnya daya sihir iklan bagi anak. Penyebabnya, anak-anak adalah khalayak media yang belum kritis berpikir dan mereka cenderung mengimitasi.
Ini disadari betul oleh para pengiklan. Banyak produk iklan yang bahkan tidak ditujukan untuk anak pun bisa jadi potensial mempengaruhi anak, dan akhirnya, anak-anaklah yang diharapkan jadi pembujuk ampuh bagi orangtuanya untuk membeli produk yang diiklankan.
Menghindari anak dari iklan amat sulit dilakukan, bahkan rasanya mustahil. Karena itu satu-satunya jalan yang dapat dilakukan adalah memberi anak ketrampilan untuk "melek-iklan" sehingga mereka cerdas mencerna iklan. Tujuannya agar mereka tidak mudah terpengaruh iklan. Ujung-ujungnya ini akan melatih anak untuk menjadi konsumen yang cerdas.
Ketrampilan ini sangat penting diberikan kepada anak. Kita bisa jadi selama ini telah menjadi orangtua yang sangat bertanggungjawab mengatur pola konsumsi media anak, misalnya: membatasi jam menonton TV atau selektif memilih acara yang ditontonton anak. Tetapi sadarkah kita bahwa iklan selalu ada pada tiap acara yang ditonton anak -sesedikit apa pun acara yang ditonton itu. Dapat dikatakan, iklan selalu menghampiri anak. Tak ada anak yang terbebas dari iklan. Dalam acara-acara anak yang bagus atau sehat pun, iklan hadir.
Sebagai orangtua, sangat penting bagi kita untuk berbicara tentang apa itu iklan, bagaimana daya persuasi iklan, bahwa iklan menjadikan pemirsa TV sebagai sasaran, bagaimana klaim iklan yang kadang berlebihan, dan sebagainya. Tentu saja sebelumnya sedikit banyak kita juga harus punya pengetahuan tentang iklan.
Kita dapat berbicara kepada anak-anak tentang bagaimana menariknya film iklan. Pengambilan gambar iklan selalu close-up, model-modelnya selalu cantik dan ganteng, musiknya menarik, dan sebagainya. Kita juga dapat berbicara dengan anak bahwa dalam kenyataannya produk yang diiklankan tidaklah sama atau sehebat yang tampak di layar kaca.
Anak-anak adalah khayalak yang rentan. Makin kecil usia anak, makin mudah ia terpengaruh iklan. Anak-anak yang berusia dini umumnya lebih mempercayai klaim dan tampilan iklan; mereka meyakini bahwa yang ditampilkan iklan adalah benar.
Itulah sebabnya, mengajarkan anak untuk cerdas mencerna iklan adalah suatu keniscayaan. Dalam dunia kehidupan modern yang dicirikan oleh gaya hidup konsumtif, anak-anak kita didorong untuk menjadi konsumen bahkan pada usia yang masih sangat dini. Adalah tugas kita untuk membimbingnya menjadi konsumen yang cerdas. Salah satu cara yang terpenting adalah membuat anak memiliki kemampuan untuk menangkal daya pesona iklan yang mudah menyihir anak.
------
(Kidia)
