Berita
Kamis, 12 Juli 2007 06:50:32
Gerakan HARI TANPA TV 2007
Kategori: Umum (2140 kali dibaca)
Spanduk HTT yang digunakan dalam aksi damai di Bundaran HI, Jumat 20 Juli 2007

Latar Belakang
TV memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Namun sayangnya aktivitas menonton TV memangkas waktu interaksi dalam keluarga, menimbulkan dampak negatif berupa peniruan dan penanaman nilai pada anak-anak dan remaja, berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dsb. Fungsi siaran TV sebagai hiburan jauh lebih menonjol dibanding dengan fungsi yang seharusnya bisa diperankan berupa informasi dan edukasi. Keluarga yang mengalokasikan waktu yang lebih sedikit untuk menonton TV, akan mempunyai lebih banyak waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lebih posistif, interaktif dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja.
Untuk itulah perlu ditumbuhkan sikap kritis anak-anak, remaja, orangtua, dan seleuruh lapisan masyarkat dalam menggunakan televisi, agar dapat terhindar dari dampak negatifnya dan dapat mengoptimalkan fungsi televisi sebagai sumber informasi dan pengetahuan.

Tujuan
Membangkitkan sikap kritis keluarga dan masyarakat dalam mengkonsumsi siaran televisi, dengan cara mengurangi jumlah jam menonton televisi dan pemilihan acara yang aman dan sehat.

Pengertian 'Hari Tanpa TV
Hari Tanpa TV adalah hari dimana keluarga-keluarga di Indonesia tidak mengkonsumsi siaran televisi selama sehari penuh agar mereka dapat merasakan bahwa hidup bisa lebih bernilai ketika lebih banyak kegiatan lain dapat dilakukan ketimbang menonton televisi.

Waktu pelaksanaan
Minggu 22 Juli 2007, berkaitan dengan peringatan Hari Anak Nasional (23 Juli 2007).

Target dan Cakupan
Target dari gerakan ini adalah keluarga yang memiliki anak usia pra sekolah dan sekolah dasar di seluruh wilayah Indonesia, dengan pemusatan aksi di Jakarta, Medan, Bandung, Yogya, Surabaya, Makassar. Diharapkan sekitar 1 juta keluarga di seluruh Indonesia mengikuti Gerakan Hari Tanpa TV.

Pemrakarsa dan pendukung
Gerakan HARI TANPA TV ini diprakarsai oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) dan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) dan didukung oleh berbagai institusi yang bersedia bergabung.

Pembiayaan
Kegiatan ini didanai oleh lembaga pemrakarsa dan pendukung secara gotong royong sesuai dengan kemampuan masing-masing lembaga.

 

Kegiatan
1. Rapat-rapat persiapan dan penggalangan dukungan
2. Press Conference - Rabu 18 Juli 2007
3. Pelaksanaan Aksi Damai di Jakarta, Medan, Bandung, Yogya, Surabaya, Makassar, dll. - Jumat 20 Juli 2007
4. Pelaksanaan Hari Tanpa TV - Minggu 22 Juli 2007
5. Monitoring dan pelaporan Hari Tanpa TV

 

 

Beberapa Hal Tentang Hari Tanpa TV

Siapa yang dapat berpartisipasi?

Semua orang diharapkan bisa mengikuti aksi ini. Anak-anak, remaja, orang dewasa dan orangtua, melalui sekolah, kelompok-kelompok keagamaan, kantor, komunitas, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya.

Bagaimana aksi ini bekerja?

Aksi Hari Tanpa TV dilakukan dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat dengan cara menyebarkan brosur, poster, dan media publikasi lainnya, untuk tidak mengkonsumsi televisi dan menciptakan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan untuk seluruh anggota keluarga. Dengan tidak menonton televisi selama sehari, setiap orang diharapkan dapat merasakan keterikatan dengan kehidupan yang nyata. Dan dengan adanya waktu yang didapatkan, mereka dapat melakukan kegiatan yang lebih produktif dan menyenangkan yang selama ini tidak pernah terpikirkan.

Bagaimana keberhasilan aksi ini diukur?

Salah satu indikator keberhasilan aksi ini adalah dengan melihat banyaknya dukungan dari berbagai lapisan di masyarakat melalui fax, e-mail, pesan pendek SMS, dan laporan dari media massa. Pendukung gerakan ini akan diminta untuk membuat pelaporan mengenai pelaksanaan Hari Tanpa TV di wilayah/lingkungan tertentu dengan metode pelaporan yang baku.

Apa aksi nyata yang dapat dilakukan untuk menggantikan aktivitas menonton?
Masyarakat dapat menikmati kegiatan membaca, mengobrol, bermain, berolah raga, membersihkan kamar, mengurus taman, mengunjungi kerabat, bercengkrama atau sejumlah aktivitas lain. Tim pelaksana Gerakan Hari Tanpa TV akan membuat lembar informasi mengenai tempat-tempat yang dapat dikunjungi oleh keluarga dan deskripsi mengenai berbagai kegiatan praktis yang bisa dilakukan di dalam maupun di luar rumah.

 

Bagaiman tahapan untuk bisa ikut berpartisipasi?

Enam tahap berpartisipasi dalam kegiatan HARI TANPA TV:

1. Berkomitmen
Bicarakan dengan keluarga tentang aksi ini. Sampaikan pemikiran yang mendasari gerakan keprihatinan ini, dan jadikan ini sebagai keputusan keluarga dan mintalah kerjasama mereka. Sampaikan bahwa anda ingin aksi ini menjadi menyenangkan untuk semua anggota keluarga.
2. Membentuk dan mengorganisasikan kelompok
Bentuk kelompok dari komunitas di lokasi masing-masing.
Cari teman, keluarga dan tetangga yang juga tertarik dengan program ini. Kunjungi kepala sekolah, petugas perpustakaan sekolah, guru seni/musik, pelatih olahraga, atau pemimpin agama. Mintalah dukungan dan partisipasi mereka. Jangan lupa, berilah nama pada kelompok yang kita buat. Di 5 kota yang direncanakan, pelaksana Gerakan Hari Tanpa TV akan bekerjasama dengan sebuah lembaga dan mengirimkan material kampanye kurang lebih berupa: 2 buah spanduk; 1000 flyer; 500 sticker; dan 100 poster.
3. Identifikasikan dan berilah semangat pada pendukung program ini
Sekolah, perpustakaan, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, toko buku, dokter, kelompok pencinta lingkungan, insitusi budaya, dan organisasi yang konsern pada dunia literasi merupakan pendukung paling kuat dari aksi ”Sehari tanpa TV”. Masing-masing memiliki tugas dan tanggungjawab yang berbeda untuk menyukseskan aksi ini.
4. Bekerjasama dengan media
Di setiap kota dapat dibuat publikasi yang melibatkan media-media yang bisa dimanfaatkan. Aksi Damai (Jumat 20 Juli 2007) dapat meminta peliputan media. Press release dan bahkan konfrensi pers bisa juga dilakukan.
5. Mulai terapkan aktivitas ”bebas TV”.
Melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan membangun kedekatan dengan anggota keluarga, tetangga dan komunitas yang menarik dan menyenangkan sebagai ganti acara menonton TV.


(Guntarto)
 
 
Good
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar