Berita
Minggu, 09 Juli 2006 08:20:41
Beberapa hal tentang HARI TANPA TV
Kategori: Umum (3421 kali dibaca)
Beberapa hal tentang
HARI TANPA TV
Minggu 23 Juli 2006


Latar Belakang
TV memangkas waktu keluarga. Berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dsb. TV memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Sebuah penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa rata-rata anak Jakarta, dalam satu pekan menghabiskan waktu menonton 30-35 jam. Ini adalah jumlah yang terlalu besar untuk kebutuhan hiburan yang dianggap sehat bagi anak. Keadaan ini diperparah dengan fenomena tidak sedikitnya keluarga menengah ke atas yang setiap anggotanya bisa saja menonton program yang berbeda di ruangan yang berbeda. Hasil penelitian lain (YKAI 2002) menunjukkan bahwa alasan anak menonton TV lebih sebagai hiburan (72%) ketimbang menambah pengetahuan (24,2%).
Sebuah penelitian menyebutkan dampak TV terhadap otak antara lain : menghambat perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun memahami dan mengekspresikan lewat tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 3-10 tahun, tidak mampu membedakan antara yang nyata dan tidak nyata. Matang secara seksual lebih cepat, kegemukan.
Padahal, di satu sisi, keluarga yang mempunyai waktu yang lebih sedikit dalam menonton TV seringkali mempunyai lebih banyak waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lebih posistif, interaktif dan mempererat hubungan kekeluargaan.

Tujuan
Membangkitkan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif menonton TV

Apa itu sehari tanpa TV?
Yaitu kesempatan yang berharga bagi anak-anak dan orang dewasa untuk mengalami hari tanpa TV. Selama satu hari, 24 jam, seluruh masyarakat Indonesia mematikan TV mereka untuk merasakan bahwa hidup bisa lebih bernilai ketika lebih banyak beraktivitas ketimbang menonton.

Kapan dilakukan?
Pada hari Minggu 23 Juli 2006, bertepatan dengan Hari Anak Nasional.

Siapa yang boleh berpartisipasi di sini?
Semua orang boleh ikut. Dari berbagai suku bangsa di Indonesia dari mulai anak-anak, remaja dan orangtua, dari berbagai sekolah, kelompok-kelompok keagamaan, komunitas, kelompok-kelompok masyarakat dsb.

Bagaimana aksi ini bekerja?
Sehari tanpa TV dilakukan melalui aksi menyebarkan brosur, pamflet dan media publikasi lain berisi ajakan untuk tidak menyalakan TV, mengajak orang2 terdekat kita untuk mematikan TV, menciptakan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. Para peserta diminta untuk merasakan keterikatan dengan kehidupan yang nyata.Dan dengan waktu yang mereka temukan kembali, mereka dapat menikmati kegiatan membaca, mengobrol, bermain, mendaki, bercengkrama atau sejumlah aktivitas lain.

Apa aksi riil yang dapat dilakukan untuk menggantikan aktivitas menonton?
Salah satu yang sangat mungkin dilakukan adalah membaca.
Dengan mengurangi atau membuang waktu untuk menonton TV, Anda dapat memberikan dorongan membaca pada anak secara riil. Mulailah dengan beberapa aturan mendasar seperti tidak boleh menonton TV pada malam minggu, tidak boleh menonton TV sebelum berangkat sekolah, dan tidak ada TV di ruang tidur anak. Anda juga dapat mengatur waktu berdasarkan batasan, misalnya dua jam/hari. Anda mungkin akan mendengar keluhan dari mereka pada awalnya, namun jika Anda meminta mereka untuk mengalihkannya pada kegiatan membaca dan belajar, misalnya Anda justru akan dimintai lebih banyak pertolongan untuk membantu aktivitas-aktivitas mereka terkait itu.
Buatlah anak-anak Anda mudah membaca dengan menyediakan akses buku yang mudah dan mendorong mereka untuk mengunjungi perpustakaan. Biarkan buku-buku mudah terjangkau dan mintalah kerabat untuk mempertimbangkan buku sebagai hadiah ulangtahun dan liburan mereka. Lakukan kunjungan mingguan ke perpustakaan untuk mencari buku-buku baru dan membantu anak memanfaatkan fasilitas yang ada.
Luangkan waktu membaca dengan anak. Jika memungkinkan, luangkan waktu setiap hari atau beberapa kali tiap mingggu untuk membacakan buku pada anak atau sebaliknya. Jangan lupa untuk mendiskusikan buku yang Anda dan anak Anda baca. Tanyakan pada mereka jalan ceritanya. Bantu mereka menemukan kosakata baru. Dorong anak Anda untuk mencoba jenis atau gaya baru dalam menulis.
Selain membaca, hiking, berjalan kaki juga bisa dilakukan. Lazimnya hiking dilakukan di tempat-tempat yang banyak pohon-pohonnya atau bahkan di hutan. Jika di kota tidak memungkinkan, berjalan-jalan di taman kota atau tempat lain yang representatif bisa menjadi salah satu alternatif.
Hiking itu bagus untuk kesehatan tubuh, kegiatan ini dapat menurunkan terkanan darahmu dan menurunkan risiko serangan jantung selain juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan. Coba bandingkan dengan aktivitas menonton TV yang berakibat memperlambat metabolisme tubuh dan berpotensi membuat kita gemuk. Selain itu hiking juga dapat menghilangkan stress, begitu beberapa penelitian. Sebaliknya menonton TV, juga menurut penelitian, dapat membuat otak menjadi tidak aktif.
Hiking juga bagus untuk lingkungan. Dengan berjalan kaki kita dapat menghemat bahan bakar dan mengurangi jumlah kendaraan sehingga polusi juga berkurang. Berjalan-jalan membuat kita begitu akrab dengan alam. Sementara jika kita menonton TV dan terpengaruh oleh iklan yang membuat kita konsumtif dan berpotensi lebih banyak menghasilkan sampah. Menonton TV berpotensi membuat kita berjarak dengan alam.
Untuk selanjutnya, pertimbangkan untuk mulai menerapkan bahwa kita bisa hidup tanpa TV. Dengan hasil-hasil penelitian tentang efek negatif menonton TV, beberapa keluarga membebaskan rumah mereka dari TV. Ini terutama penting untuk anak-anak memiliki kesempatan menyerap pengalaman hidup yang lebih nyata sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan untuk kesuksesan mereka di masa depan. Jika yang ini sulit dilakukan, berpartisipasilah dalam even-even seperti ”Sehari tanpa TV” dan berilah batasan menonton dan dampingi anak menonton TV sepanjang tahun.


Bagaimana tahapan untuk bisa ikut berpartisipasi?
Enam tahap berpartisipasi dalam ”Sehari tanpa TV”
1. Berkomitmen
Bicarakan dengan keluarga tentang aksi ini. Jadikan ini sebagai keputusan keluarga dan mintalah kerjasama mereka. Katakan bahwa Anda ingin aksi ini menjadi menyenangkan. Bersama-sama identifikasikan waktu yang Anda dan keluarga gunakan untuk menonton TV. Diskusikan dengan mereka aktivitas-aktivitas yang dapat Anda rencanakan untuk menggantikan waktu menonton TV.
2. Membentuk dan mengorganisasikan tim
Bentuk kelompok dari komunitas di lokasi masing-masing. Cari teman, keluarga dan tetangga yang juga tertarik dengan program ini. Kunjungi kepala sekolah, petugas perpustakaan sekolah, guru seni/musik, pelatih olahraga, atau pemimpin agama. Mintalah dukungan dan partisipasi mereka. Jangan lupa, berilah nama pada kelompok yang kita buat.
3. Identifikasikan dan berilah semangat pada pendukung program ini.
Sekolah, perpustakaan, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, toko buku, dokter, kelompok pencinta lingkungan, insitusi budaya, dan organisasi yang konsern pada dunia literasi merupakan pendukung paling kuat dari aksi ”Sehari tanpa TV”.
Masing-masing memiliki tugas dan tanggungjawab yang berbeda untuk menyukseskan aksi ini.
4. Bekerjasama dengan media
Di setiap kota dapat dibuat publikasi yang melibatkan media-media yang bisa dimanfaatkan. Press release dan bahkan konfrensi pers bisa juga dilakukan.
5. Mulai terapkan aktivitas ”bebas layar kaca”.
Melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan membangun kedekatan dengan anggota keluarga, tetangga dan komunitas yang menarik dan menyenangkan sebagai ganti acara menonton TV.

Nikmati dan Rayakan keberhasilan ini! Nikmati hari tanpa TV. Kita bisa memanjakan diri dan jika perlu membuat pesta kecil untuk merayakan keberhasilan ini.

Ke mana informasi lebih lanjut bisa diperoleh?
Buah Hati Telp 021-80871763. YPMA/KTvS Telp 021-70884101. YPM Salman ITB 022-2503645. (Haryati)
 
 
Excellent!
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar